Indah. Kata itu yang mungkin kini akan mengawali hari-hariku. Ada beberapa yang mungkin akan tergadaikan dalam keseharianku ke depan, oportunity dan cost (keuntungan dan kerugian akan kita dapatkan secara bersamaan jika kita sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu) berlaku disini. Namun, kurasa itu harga yang pantas. Hidup bukan kumpulan dari keberuntungan demi keberuntungan sehingga memungkinkan kita untuk memilih dan menghitung keuntungan dan kerugian dari pilihan-pilihan kita. Kata sahabatku, apa yang kau tanam itulah yang ka petik maka aku akan memilih menanam sesuatu yang baik agar nanti aku juga menuai hasil yang baik juga darinya. Lanjut Baca »
Ditulis dalam capung | 16 Komentar »
Untuk pertama kalinya aku merasa baik-baik saja setelah hitamnya cobaan kemarin datang. Cobaan yang mencoba menghempasku ke jalan penuh liku. Tak butuh waktu yang lama. Tak ada tangis penyesalan atau mengurung diri dalam kamar. Banyak sahabatku yang sempat merasa khawatir akan kondisiku. Aku bersyukur karena masih ada orang yang peduli denganku. Mungkin sebuah keberuntungan, saat ini aku mempunyai cukup logika untuk tidak terpuruk. Kata Dewa 19, satu sisi akan terhapus menyisakan perih, tetapi satu sisi juga akan terlahir memecah sunyi. Akan ada sesuatu baru yang akan terlahir. Dan kurasa sesuatu itu akan sangat memukauku nanti. Lanjut Baca »
Ditulis dalam kata hati | 20 Komentar »
Hari-hari kita masih akan terus berfluktuasi. Membuat grafik naik turun yang tidak pasti. Tak selamanya seperti rumus matematika parabola, y =ax2 + bx + c yang bisa diprediksi dengan akar-akar persamaannya. Kadang datang semangat yang menggelora, kadang ada rasa malas yang menyandera jiwa. Meski semuanya berubah, ada sesuatu yang harusnya kita yakini agar tidak berubah yaitu perubahan itu sendiri. Apalagi memasuki bulan Ramadhan kali ini. Sesuatu harus berubah dalam diri kita. Tentu saja menuju perubahan yang lebih baik. Kau paham dan setuju dengan pernyataanku ini? Lanjut Baca »
Ditulis dalam capung | 13 Komentar »
Jingga. Mungkin itu warna dirinya. Putih menyilaukan pada awalnya. Dan warna itu mulai mencairkan semua kebekuan sel-sel darahku karena lamanya menunggu. Beberapa tahun telah kulalui dengan segala jerih payah untuk tak hentinya berharap. Terus berharap dengan segala ketidakpastian akan masa depan. Setidaknya harusnya muncul satu titik cerah walau buram seperti harapan. Namun, yang kunanti tak juga datang. Akhirnya laci-laci prasangka telah penuh dan membuatku kelelahan. Aku harus merelakan sesuatu itu kembali kepada asalnya. Lanjut Baca »
Ditulis dalam kata hati | 17 Komentar »
Malam itu kami berbicara sambil berbaring menatap langit-langit kamarku sehabis sholat isha. Di atas kasur merah yang sepreinya baru saja kering karena ku jemur siang tadi. Kami berbicara tanpa alur. Bernostalgia dengan masa lalu. Merangkai acak peristiwa demi peristiwa. Menertawakan kebodohan, keculunan, juga mungkin kenarsisan di masa lalu. Dan tanpa tersadar, kami sering memunculkan beberapa rahasia baru kami masing-masing. Menyemaikan diskusi tentang arti kehidupan dan bagaimana setiap kejadian dalam kehidupan itu disikapi. Hanya saja ceritanya yang paling dominan malam itu adalah tentang euforia yang sedang dialaminya. Lanjut Baca »
Ditulis dalam kata hati | 13 Komentar »



