<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>cinderajiwa hanif_ar</title>
	<atom:link href="http://hanifarrul.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hanifarrul.wordpress.com</link>
	<description>setiap perjalanan punya batu kerikil dan angin yang melengkapinya</description>
	<lastBuildDate>Sun, 01 Nov 2009 20:18:44 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='hanifarrul.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/f721f4ca0bcbfda1eb22b949efff9cca?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>cinderajiwa hanif_ar</title>
		<link>http://hanifarrul.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Tumbuhlah dengan Utuh</title>
		<link>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/11/01/tumbuhlah-dengan-utuh/</link>
		<comments>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/11/01/tumbuhlah-dengan-utuh/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Nov 2009 07:28:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
				<category><![CDATA[capung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanifarrul.wordpress.com/?p=457</guid>
		<description><![CDATA[Jam di HP temanku sudah menunjukkan sekitar pukul 21.30 WIB malam itu. Lampu sudah lebih dahulu berganti merah ketika kami sampai di perempatan lampu merah MM UGM. Lalu tubuh mungil itu segera mendekat bertepuk tangan sambil menyanyi lagu yang tak jelas terdengar. Menampakkan wajah mengharap “Mas sisihkan recehmu untukku”. Dan segera saja temanku merogoh saku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifarrul.wordpress.com&blog=5882857&post=457&subd=hanifarrul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;"><img class="alignleft" src="http://photos-p.friendster.com/photos/38/19/38329183/1_235024868l.jpg" alt="tumbuhlah dengan utuh" width="295" height="212" />Jam di HP temanku sudah menunjukkan sekitar pukul 21.30 WIB malam itu. Lampu sudah lebih dahulu berganti merah ketika kami sampai di perempatan lampu merah MM UGM. Lalu tubuh mungil itu segera mendekat bertepuk tangan sambil menyanyi lagu yang tak jelas terdengar. Menampakkan wajah mengharap “Mas sisihkan recehmu untukku”. Dan segera saja temanku merogoh saku celananya mencari uang recehan yang ada.<span id="more-457"></span></p>
<p>Senyum menyungging di wajahnya seketika ketika ia menerima uang recehan itu. Lalu seketika akupun bertanya “De ra kademen po? (De tidak kedinginan?). Wajah kecil itu cuma menggeleng pelan dan segera menjauh ke trotoar. Menunggu kendaraan yang lain berhenti di lampu merah yang sama dengan kami. Melakukan hal yang sama berulang-ulang seperti tadi. Gadis kecil berumur dua tahun itu masih mengharap belas kasihan orang sampai semalam ini. Mengumpulkan recehan-recehan entah untuk menyambung hidup dirinya sendiri atau orang lain.</p>
<p>Sungguh tega. Teramat tega. Jika orang tua gadis kecil itu masih hidup dan memanfaatkan keberadaannya. Memanfaatkan untuk mencari uang dengan mengharap belas kasihan orang-orang di jalan. Dengan alasan apapun aku tak bisa memaafkannya. Ia mempunyai hak hidupnya sebagai kanak-kanak. Bermain dan belajar hal-hal baru yang menyenangkan. Bukan mencari uang di jalanan. Gadis kecil seusianya seharusnya sudah tidur malam ini, berselimut hangat kasih sayang ibunya. Seperti bidadari-bidadari kecilku, Citra dan Andini, seharusnya ia juga seperti mereka, sudah mulai bisa membaca dan berhitung sekarang.</p>
<p>Masa kanak-kanak seharusnya menjadi masa yang menyenangkan. Bermain, berekspresi sejujur-jujurnya dengan dunia luar. Memahami hal-hal baru di dunia ini yang penuh warna secara perlahan. Menyibak keanehan demi keanehan yang ternyata ketika ia dewasa bisa dipahami bahwa semua fenomena mampu dijelaskan secara ilmiah dan rasional. Maka seharusnya masa kanak-kanak dilaluinya secara wajar. Ia semestinya berkembang layaknya bunga yang dirawat secara tak berlebihan, tetapi juga tak kurang perhatian. Kita hanya boleh mengarahkan anak-anak kita menjadi pribadi-pribadi yang cocok dengan kapasitas dan keinginan dirinya. Ia mempunyai kebebasan yang harus kita hargai dan kita mengerti.</p>
<p>Hanya saja, ironi hanya bisa menjadi sebuah ironi. Tak ada yang mampu mencegah semua hal yang di atas terjadi. Banyak gadis kecil yang mungkin senasib dengannya. Mengumpulkan recehan demi recehan entah untuk siapa. Jika tak mau, ia akan mendapat tekanan atau tak diberi makan. Masa kecilnya yang bahagia terkorbankan. Sungguh kasihan hidupnya. Anugerah bahwa seorang anak menjadi penyejuk jiwa bagi orang tuanya seakan tak berlaku disini karena sepertinya orang tuanya tak mengharapkan kehadirannya di dunia ini.</p>
<p>Ah…Semoga itu semua tak terjadi kepada anak-anak kita nanti. Tak ada pemaksaan yang mungkin menurut kita baik, tetapi tidak bagi anak kita. Seperti pemberian les privat yang atau perlindungan yang berlebihan. Semoga kita bisa mengarahkan dan mendukung anak-anak kita dengan sewajarnya. Tetap memperhatikan perkembangan dirinya dengan tetap menghargai kebebasannya untuk menyukai sesuatu yang baik bagi dirinya sehingga ia tumbuh dengan utuh. Ya dengan tetap membawa kenangan masa kecilnya yang indah ketika ia sudah dewasa.</p>
<p><em>NB untuk anakku nanti : ingatkan Ayahmu nanti akan tulisan ini jika engkau sudah lahir ya Nak!(padahal ibumu saja belum bertemu dengan Ayah sekarang he he he sudah buat pesan untukmu). Yah aku akan selalu berharap  &#8221;Tumbuhlah dengan utuh&#8221;.</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanifarrul.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanifarrul.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanifarrul.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanifarrul.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanifarrul.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanifarrul.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanifarrul.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanifarrul.wordpress.com/457/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanifarrul.wordpress.com/457/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanifarrul.wordpress.com/457/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifarrul.wordpress.com&blog=5882857&post=457&subd=hanifarrul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/11/01/tumbuhlah-dengan-utuh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6b46a50a3b7774454f77d1dac4c7fe08?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanifarrul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-p.friendster.com/photos/38/19/38329183/1_235024868l.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tumbuhlah dengan utuh</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memaknai Kerutan Kelelahan</title>
		<link>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/10/26/memaknai-kerutan-kelelahan/</link>
		<comments>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/10/26/memaknai-kerutan-kelelahan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Oct 2009 17:33:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
				<category><![CDATA[capung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanifarrul.wordpress.com/?p=450</guid>
		<description><![CDATA[
Aku tak tahu berapa umur mereka secara pasti. Di KTP yang mereka punya, hanya tercantum tahun lahir tanpa tanggal dan bulan. Sedikit aneh. Saat kutanya apa benar mereka lahir di tahun tersebut, mereka cuma menjawab “kayaknya iya, tidak terlalu ingat sih, yang jelas kami masih mengalami masa penjajahan Jepang saat kanak-kanak”.  Ya pantas, mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifarrul.wordpress.com&blog=5882857&post=450&subd=hanifarrul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;"><img class="alignright" src="http://www.pasarkreasi.com/dirmember/00001/prasitiyo/content/content-505-20081003-6-34-85/large/kakek-dan-cucunya_505_l.jpg" alt="kerutan kelelahan" width="229" height="325" /></p>
<p>Aku tak tahu berapa umur mereka secara pasti. Di KTP yang mereka punya, hanya tercantum tahun lahir tanpa tanggal dan bulan. Sedikit aneh. Saat kutanya apa benar mereka lahir di tahun tersebut, mereka cuma menjawab “kayaknya iya, tidak terlalu ingat sih, yang jelas kami masih mengalami masa penjajahan Jepang saat kanak-kanak”.  Ya pantas, mereka lahir sekitar tahun 1937. Mereka menikah di usia yang sangat dini dan karena saat itu tidak ada KB maka wajar bila mereka mempunyai 9 anak. Meski 3 diantaranya sudah meninggal sekarang. Dua meninggal saat dewasa dan satunya saat masih dalam kandungan.<span id="more-450"></span></p>
<p>Islam NU yang menyentuh lapisan menengah ke bawah atau masyarakat tradisional pada masa itu dan sampai sekarang tak luput menyentuh kampung mereka. Maka tak ayal nuansa kental NU yang pernah membuat kampung mereka dijuluki kampung santri pun turut mempengaruhi kepribadian setiap diri anak-anak mereka. Mereka dan anak-anaknya tak asing dengan mengaji dan sholat berjama’ah di surau atau masjid, menghatamkan al quran dengan cepat (meski tanpa tahu maknanya), membaca surat yasin pada malam jum’at, tahlilan atau kenduri sepekan sekali dan selalu qunut ketika sholat subuh. Sholat 5 waktu menjadi suatu hal yang wajib harus tetap dikerjakan dalam kondisi apapun dan dimanapun. Syarat itu berlaku ketika anak-anaknya mencapai usia akhil baligh.</p>
<p>Bagi mereka berdua waktu terasa begitu cepat berlalu. Uban sudah mulai memenuhi kepala mereka. Tubuh merenta menyeimbangkan lama waktu mereka bernafas di dunia. Ingatannya pun sudah mulai mengabur menyesuaikan fase fitrahnya sebagai manusia. Kini lima anaknya sudah berkeluarga, mempunyai anak juga rumah sedang anak terakhir (yang paling bandel tetapi pintar diantara semuanya) sebentar lagi akan wisuda. Aku melihat banyak sekali guratan kelelahan yang tersembunyi dari wajahnya. Juga dalam bola matanya yang anehnya senantiasa meneduhkan. Ya mungkin karena di sanalah para anaknya sering menambatkan permasalahannya. Di sanalah terdapat bukti selalu adanya kepedulian kepada anaknya meski anaknya sudah berkeluarga, berkecukupan dan bahagia. Mereka akan selalu menanyakan “Bagaimana kabar anaku disana? Sudah makankah dia? Apa masih punya beras? dll”.</p>
<p>Mereka tak pernah menyesal mempunyai anak sebanyak itu karena anak-anak mereka tak pernah melampaui batas kewajaran nakal seorang anak yang bisa mencemarkan nama baik keluarga. Anak yang mereka suapi dari kecil tak pernah melakukan sesuatu yang membuat mereka malu di kampungnya. Mungkin ini sebuah jerih payah mereka mendidik anaknya dengan berlandaskan agama selama ini. Hingga pada akhirnya mata mereka akan selalu berbinar ketika anak-anak mereka pulang. Berkumpul dan bercerita tentang banyak hal yang bagi mereka terasa baru padahal hal tersebut mungkin sudah menjadi berita basi di televisi. Tersenyum ketika melihat cucu mereka turun dari pangkuan ibu atau bapaknya dan memanggil mereka dengan sebutan “Mbah”. Sebutan tulus yang senantiasa meluruhkan hati dari jiwa-jiwa yang masih polos.</p>
<p>Dan suatu saat mungkin kita akan merasakan seperti halnya mereka. Atau mungkin sudah ada beberapa dari kita yang sedang merasakannya sekarang. Merasakan kelelahan demi kelelahan menjadi orang tua. Kelelahan yang akan selalu mengiringi sampai kita mati. Kelelahan untuk terus bersabar. Terus membimbing anak-anak kita meski mereka sudah dewasa di mata umum. Terus menasehati agar selalu bersyukur akan kecukupan dan kelapangan dari Allah swt dengan segala nikmat yang dikaruniakannya kepada kita. Maka saat kita ingat akan posisi kita sebagai anak, jangan pernah melupakan pengorbanan orang tua kita yang telah berlelah-lelah merawat diri kita sejak kecil. Kita yang hanya bisa menangis dulu bisa menjadi pandai berbicara sekarang karena bantuan, dukungan dan kasih saying orang tua. Kita takkan pernah bisa lunas membayarnya dengan apapun. Jadi sebisa mungkin mari bersama-sama membuat simpul-simpul senyum di pipi orang tua kita dengan membuatnya bangga, dengan membuatnya bahagia agar kerutan kelelahan di wajahnya sedikit terobati dengannya. Mari kembali mencoba menjadi anak yang berbakti. Mari mencobanya bersama-sama!Y(^_^). Kau mau kan sahabatku?</p>
<p><em>Tulisan ini ku persembahkan untuk <strong>Bapak</strong> dan <strong>Simbokku</strong>, semoga saja suatu saat nanti aku bisa membawa kalian menjadi tamu Allah swt.</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanifarrul.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanifarrul.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanifarrul.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanifarrul.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanifarrul.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanifarrul.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanifarrul.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanifarrul.wordpress.com/450/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanifarrul.wordpress.com/450/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanifarrul.wordpress.com/450/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifarrul.wordpress.com&blog=5882857&post=450&subd=hanifarrul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/10/26/memaknai-kerutan-kelelahan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6b46a50a3b7774454f77d1dac4c7fe08?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanifarrul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.pasarkreasi.com/dirmember/00001/prasitiyo/content/content-505-20081003-6-34-85/large/kakek-dan-cucunya_505_l.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kerutan kelelahan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Aku Kembali Cemburu</title>
		<link>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/10/22/aku-kembali-cemburu/</link>
		<comments>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/10/22/aku-kembali-cemburu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Oct 2009 23:57:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
				<category><![CDATA[kata hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanifarrul.wordpress.com/?p=445</guid>
		<description><![CDATA[Di terik siang hari wajah itu merah merona. Di sekitarnya ada cahaya. Cahaya yang selama ini kucari dan ingin kumiliki.  Seakan cahaya matahari diserap dan dipantulkan olehnya. Aku tertegun beberapa saat. Menelan ludah. Hingga pada akhirnya wajah itu mengeluarkan suara memanggil. Namun, bukan diriku yang dipanggil olehnya melainkan temanku yang sedang punya kepentingan dengannya.Aku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifarrul.wordpress.com&blog=5882857&post=445&subd=hanifarrul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;"><img class="aligncenter" src="http://bayuadhitya.files.wordpress.com/2008/04/6428gif.jpg?w=295&amp;h=212&#038;h=212" alt="aura" width="295" height="212" />Di terik siang hari wajah itu merah merona. Di sekitarnya ada cahaya. Cahaya yang selama ini kucari dan ingin kumiliki.  Seakan cahaya matahari diserap dan dipantulkan olehnya. Aku tertegun beberapa saat. Menelan ludah. Hingga pada akhirnya wajah itu mengeluarkan suara memanggil. Namun, bukan diriku yang dipanggil olehnya melainkan temanku yang sedang punya kepentingan dengannya.Aku hanya diam menunggu urusannya selesai dengan temanku.<span id="more-445"></span></p>
<p>Hatiku sedikit bergetar. Mengetahui sesuatu yang kurindukan ada di depanku sekarang. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh. Lima belas meter dari tempatnya berdiri. Berlindung dari terik matahari di bawah pohon sambil membawa buku yang tadinya akan menemaniku mengisi siang ini.Tak ada pembicaraan diantara kami. Hanya sebuah anggukan dan senyum kecil ketika urusan dengan temanku selesai. Tanda dia mengetahui dan menghormati kehadiranku. Dan wajah itu masih dikelilingi cahaya yang menakjubkan. Siapakah gerangan dirinya? Aku kembali cemburu. Bagaimana dia bisa memiliki cahaya kemilau menakjubkan yang mungkin selama ini kucari. Cahaya yang biasa kusebut sebagai aura.</p>
<p>Aura. Menurut keyakinanku apa yang kusebut dengan “aura” ini tak pernah berbohong. Mungkin berlebihan. Mungkin ini sebuah ilusi bahwa diriku mampu melihatnya. Entah sejak kapan aku bisa melakukannya. Namun, yang pasti jika aku melihatnya ada pada diri seseorang maka aku dengan yakin  memastikan bahwa orang itu adalah orang yang baik. Hal itu menjadi benar adanya ketika sahabatku menceritakan tentangnya. Tentang tata lakunya dalam bersikap. Lalu waktu kemudian berpihak dan menyibak  semua rahasianya. Kurasa ini bukan sebuah kebetulan. Allah yang memberikan jalan untuk menjawab semua pertanyaanku tentang dirinya. Aku melihat mimpi-mimpinya, cita-citanya, target-targetnya, dan kegiatan sehari-harinya dalam sebuah catatan kecil. Takjub aku dibuatnya.</p>
<p>Dalam catatannya, ia setiap hari melakukan semua aktivitas ini. Qiyamul lail setiap hari. Sholat fardunya diusahakan tepat waktu dan berjama’ah. Tak lupa dilengkapi dengan sholat rowathibnya. Membaca wirid di kala pagi atau petang. Sholat dhuha selalu coba dilakukan untuk meringankan jiwanya. Membaca dan mentadaburi Al Qur’an 1 juz setiap hari.  Puasa senin kamis. Hafalan 5 ayat dan muroja’ah tak pernah ketinggalan. Yang selalu menarik adalah bahwa dirinya ingin selalu membantu orang yang membutuhkan pertolongannya juga berjanji akan ramah dan murah senyum kepada siapapun. Setiap hari ya setiap hari.</p>
<p>Jarang aku dengan mudah mempercayai sebuah catatan yang tak sengaja terbuka. Dan untuk catatannya aku benar-benar langsung percaya. Mungkin karena catatan ini dirahasiakan. Tak ada maksud untuk membuka dan membeberkan apa yang sehari-hari dilakukannya. Atau kita biasa menyebutnya riya. Segala amalan yang dilakukannya hanya ingin diketahui oleh Allah dan dirinya. Aku hanya orang beruntung yang mengentahuinya tanpa sengaja dan tanpa sepengetahuan dirinya. Tentang qiyamul lailnya, tentang puasanya, tentang dhuhanya, tentang hafalan Al Qur’annya. Terasa tampil apa adanya dan tak berlebihan. Seperti dirinya yang nampak sederhana.</p>
<p>Aku pun kembali cemburu. Saat bertemu kembali dengan dirinya untuk kedua kalinya. Karena cahaya itu masih menaungi wajahnya. Cahaya dari langit. Memberikan keteduhan saat aku memandangnya sekilas. Karena rasa cemburu itu mungkin beberapa hari ke depan dan selanjutnya aku akan mengikuti apa yang dia lakukan sehari-hari. Memulainya sebisa mungkin. Terus menyempurnakan sujud-sujudku. Terus merenungkan dan mengambil hikmah dari kehidupan dan kejadian. Terus bersyukur dengan apa yang ada di depan mata. Ya seperti dalam doa iftitah yang setiap hari kita lantunkan dalam sholat fardu kita… agar hidup dan matiku hanya untuk Allah semata.</p>
<p>Aku ingin memiliki cahaya yang meneduhkan itu.</p>
<p>Bismillah</p>
<p><strong>(NB : Ini sebenarnya sudah diposting kemarin, hanya aku salah klik sehingga tulisannya kehapus tanpa sengaja waktu edit tulisan, maaf komentar sahabat juga jadi hilang)</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanifarrul.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanifarrul.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanifarrul.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanifarrul.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanifarrul.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanifarrul.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanifarrul.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanifarrul.wordpress.com/445/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanifarrul.wordpress.com/445/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanifarrul.wordpress.com/445/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifarrul.wordpress.com&blog=5882857&post=445&subd=hanifarrul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/10/22/aku-kembali-cemburu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6b46a50a3b7774454f77d1dac4c7fe08?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanifarrul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bayuadhitya.files.wordpress.com/2008/04/6428gif.jpg?w=295&#38;h=212" medium="image">
			<media:title type="html">aura</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jika Jiwamu Berat</title>
		<link>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/10/14/jika-jiwamu-berat/</link>
		<comments>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/10/14/jika-jiwamu-berat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Oct 2009 01:09:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
				<category><![CDATA[kata hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanifarrul.wordpress.com/?p=427</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini aku mengawali hariku dengan lagu &#8220;The Best of Me&#8221; milik Bryan Adams setelah semalam dan subuh tadi aku disibukkan dengan revisi skripsi. Ada rasa tawar. Semuanya masih belum kembali genap. Padahal baru dua hari yang lalu aku pulang ke rumah. Mencari serpihan yang tertinggal. Saat kembali ke Jogja aku merasa kembali utuh dengan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifarrul.wordpress.com&blog=5882857&post=427&subd=hanifarrul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" src="http://photos-p.friendster.com/photos/38/19/38329183/1_985487189l.jpg" alt="tantangan" width="295" height="212" />Pagi ini aku mengawali hariku dengan lagu &#8220;The Best of Me&#8221; milik Bryan Adams setelah semalam dan subuh tadi aku disibukkan dengan revisi skripsi. Ada rasa tawar. Semuanya masih belum kembali genap. Padahal baru dua hari yang lalu aku pulang ke rumah. Mencari serpihan yang tertinggal. Saat kembali ke Jogja aku merasa kembali utuh dengan kepingan yang kudapatkan di rumah. Namun, sekarang rasa ganjil itu muncul kembali. Mungkin hanya rasa teduh bernaung sebentar yang kudapatkan di rumah. Rasa teduh yang melepaskan kepenatan dan kebimbanganku akan sesuatu yang masih misteri, yang aku sendiri tidak tahu mengapa aku merasakan keterasingan ini. Dan rasa teduh yang hanya sebentar kemarin bisa kudapatkan dari pandangan teduh dan belaian tulus simbok. Atau celoteh jujur dan bening mata dari keponakan-keponakanku.<span id="more-427"></span></p>
<p>Meski begitu aku harus tetap berjalan. Mengiringi roda kehidupan yang terus berputar. Mungkin ada baiknya aku kembali mengingat target-target kehidupanku agar aku kembali bergairah, agar aku kembali bisa merasakan kebahagiaan jika mampu mencapainya. Sedikit tantangan. Ya sedikit tantangan. Itu yang mungkin hilang saat ini. Hm&#8230;jadi ingat perasaan mendebarkan saat naik ke menara FBS di kampus yang tingginya kurang lebih 30 meter dan turun dari sana menggunakan tali. Dari atas sana aku bisa melihat hamparan tata kota Jogja yang begitu unik. Merasa diriku kecil dengan melihat bumi yang terhampar begitu luas. Ada banyak yang belum ku ketahui di luar sana. Ada banyak orang-orang yang kurasa bisa dijadikan teladan kehidupan yang belum kutemui. Orang yang tidak hanya <em>nrimo pandum</em>, tetapi berjuang demi penghidupannya, demi menjaga martabatnya di mata Sang penciptanya juga di mata manusia.</p>
<p>Jiwaku mungkin akan masih terasa berat di pagi hari. Biarlah nanti kucoba kuobati dengan sinar dhuha-Nya. Mungkin dengan begitu aku bisa menjadikan hari-hariku kembali berisi, kembali bermanfaat. Menurut Maslow, kebutuhan aktualisasi diri adalah kebutuhan teratas bagi semua manusia setelah kebutuhan primer terpenuhi. Mungkin itu juga yang hilang dari diriku sekarang. Ya aktualisasi diri. Kebutuhan ini yang mungkin bisa membuatku kembali bergairah karena aku kembali berhubungan dengan orang-orang. Pasti akan banyak informasi baru yang kudapatkan dari mereka. Informasi yang akan menambah kapasitas pengetahuan dan menyegarkan kembali otakku untuk kembali berpikir dan berkarya. Menghasilkan sebuah karya sama dengan mencoba menghargai diri sendiri. Seberapa bisanya diriku ini menghasilkan sebuah karya yang tidak hanya bisa kunikmati sendiri tetapi bisa juga dinikmati orang lain.</p>
<p>Terakhir kali kukatakan kembali kepada diriku sendiri. &#8220;SEMANGAT!&#8221;,karena mungkin banyak orang yang sedang menungguku di sana. Menunggu senyum ikhlasku, menunggu keberhasilan dan karyaku. Dan jangan pernah lupa untuk tetap mensyukuri apa yang ada. Tetap sederhana seperti yang diajarkan keluarga. Terus berdoa semoga semua keluguan, kesederhanaan juga kejujuran tetap melekat pekat meski sinar mentari dan hujan akan silih berganti menggerogoti. Dan teruslah &#8220;SEMANGAT!!!&#8221; meski jiwamu berat karena mungkin dengan itu semuanya luluh dan kembali bergairah.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanifarrul.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanifarrul.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanifarrul.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanifarrul.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanifarrul.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanifarrul.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanifarrul.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanifarrul.wordpress.com/427/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanifarrul.wordpress.com/427/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanifarrul.wordpress.com/427/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifarrul.wordpress.com&blog=5882857&post=427&subd=hanifarrul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/10/14/jika-jiwamu-berat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6b46a50a3b7774454f77d1dac4c7fe08?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanifarrul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://photos-p.friendster.com/photos/38/19/38329183/1_985487189l.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">tantangan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tulisan Pendek</title>
		<link>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/10/07/tulisan-pendek/</link>
		<comments>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/10/07/tulisan-pendek/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Oct 2009 00:05:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
				<category><![CDATA[kata hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanifarrul.wordpress.com/?p=424</guid>
		<description><![CDATA[Lama sekali aku tidak menulis. Padahal banyak kejadian yang sebenarnya bisa kupetik hikmah dan kuceritakan kepada kalian wahai sahabatku. Hanya saja entah mengapa aku tak bisa merangkainya menjadi cerita untuk kalian ketahui. Mungkin karena sisi lain diriku mengatakan apa yang terjadi dalam diriku tak semuanya bisa kuungkapkan disini. Ada privasi yang harus kujaga. Dan itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifarrul.wordpress.com&blog=5882857&post=424&subd=hanifarrul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Lama sekali aku tidak menulis. Padahal banyak kejadian yang sebenarnya bisa kupetik hikmah dan kuceritakan kepada kalian wahai sahabatku. Hanya saja entah mengapa aku tak bisa merangkainya menjadi cerita untuk kalian ketahui. Mungkin karena sisi lain diriku mengatakan apa yang terjadi dalam diriku tak semuanya bisa kuungkapkan disini. Ada privasi yang harus kujaga. Dan itu membenamku dalam sehingga membuatku bingung aku akan bercerita tentang apa.</p>
<p>Banyak kejadian yang membuatku bahagia. Banyak juga yang benar-benar membuat lelah jiwa. Memperlemah niat yang tadinya tulus. Dan setiap ujian itu membawaku kembali berpikir tentang siapa diriku dan kemanakah aku akan pergi. Namun, seringkali kelapangan yang kudapat  dari-Nya juga malah ternyata mengikis keimananku. Aneh ya? Aku kembali menjadi asing. Akupun bertanya demikian. Dan sampai sekarang aku sedang mencari jawabannya. Agar aku bisa kembali tentram.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanifarrul.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanifarrul.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanifarrul.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanifarrul.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanifarrul.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanifarrul.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanifarrul.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanifarrul.wordpress.com/424/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanifarrul.wordpress.com/424/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanifarrul.wordpress.com/424/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifarrul.wordpress.com&blog=5882857&post=424&subd=hanifarrul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/10/07/tulisan-pendek/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6b46a50a3b7774454f77d1dac4c7fe08?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanifarrul</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Segumpal Darah</title>
		<link>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/09/14/segumpal-darah/</link>
		<comments>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/09/14/segumpal-darah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 02:54:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
				<category><![CDATA[capung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanifarrul.wordpress.com/?p=415</guid>
		<description><![CDATA[Indah. Kata itu yang mungkin kini akan mengawali hari-hariku. Ada beberapa yang mungkin akan tergadaikan dalam keseharianku ke depan, oportunity dan cost (keuntungan dan kerugian akan kita dapatkan secara bersamaan jika kita sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu) berlaku disini. Namun, kurasa itu harga yang pantas. Hidup bukan kumpulan dari keberuntungan demi keberuntungan sehingga memungkinkan kita [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifarrul.wordpress.com&blog=5882857&post=415&subd=hanifarrul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;"><img class="aligncenter" src="http://4.bp.blogspot.com/_qmeu-mPqztE/R6Ry63BeWcI/AAAAAAAAAC8/q-4Ek1tk4PQ/s400/rapuh.jpg" alt="hati" width="295" height="212" />Indah. Kata itu yang mungkin kini akan mengawali hari-hariku. Ada beberapa yang mungkin akan tergadaikan dalam keseharianku ke depan, <em>oportunity </em>dan<em> cost</em> (keuntungan dan kerugian akan kita dapatkan secara bersamaan jika kita sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu) berlaku disini. Namun, kurasa itu harga yang pantas. Hidup bukan kumpulan dari keberuntungan demi keberuntungan sehingga memungkinkan kita untuk memilih dan menghitung keuntungan dan kerugian dari pilihan-pilihan kita. Kata sahabatku, apa yang kau tanam itulah yang ka petik maka aku akan memilih menanam sesuatu yang baik agar nanti aku juga menuai hasil yang baik juga darinya.<span id="more-415"></span></p>
<p>Tak mudah memang. Memulai semua kembali dari nol. Memulai semua dari hal-hal yang sederhana. Seperti kata AA Gym dengan 3 M-nya. Mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil dan mulai sekarang juga. Semua terasa berat pada awalnya karena sudah banyak hal yang kusepelekan. Padahal hal yang sepele dan sederhana itu mempunyai efek yang ternyata sangat besar pada kehidupanku. Ya semuanya ternyata berefek kepada hati, segumpal darah yang apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh, apabila ia buruk maka buruk pula seluruh tubuh (HR Bukhari dan Muslim).</p>
<p>Dalam selebaran dari majalah Islam Ar-Risalah yang tertempel di dinding kamar teman kosku ada 3 kondisi hati. Nah&#8230;sekarang kita tengok kondisi hati kita masing-masing sesuai yang mana?</p>
<ol>
<li>Hati yang sehat</li>
</ol>
<ul>
<li>Merdeka dari      segala bentuk peribadatan kepada selain Allah swt.</li>
<li>Terbebas      dari segala fitnah subhat dan fitnah syahwat.</li>
<li>Bersemangat      untuk taat dan selalu pasrah kepada Allah swt.</li>
<li>Senantiasa      ingat dan terkait dengan akhirat.</li>
<li>Yakin,      tabah dan pandai bersyukur.</li>
<li>Terbebas      dari hasad, dengki, dan permusuhan terhadap sesama muslim.</li>
<li>Mencintai      dan memberi karena Allah, ridho dan tidak ridho karena Allah.</li>
<li>Mempunyai      pekerti luhur, santun dan bijaksana.</li>
</ul>
<ol>
<li>Hati yang sakit</li>
</ol>
<ul>
<li>Lalai dari      ibadah.</li>
<li>Sering      lupa akan dosa dan pahala.</li>
<li>Kurang      ingat terhadap akhirat.</li>
<li>Miskin      ketakwaan dan istiqomah.</li>
<li>Mudah      terpengaruh propaganda dan tergoda berbuat dosa.</li>
<li>Bimbang      menentukan pilihan dan takut terhadap risiko kehidupan.</li>
<li>Tidak bisa      mengendalikan diri dan mudah meluapkan emosi.</li>
</ul>
<ol>
<li>Hati yang mati</li>
</ol>
<ul>
<li>Tidak      mengenal Rabb dan buta terhadap kewajibannya.</li>
<li>Selalu      memburu nafsu dan memperturutkan syahwat.</li>
<li>Tidak      peduli dosa dan pahala.</li>
<li>Lupa      akhirat dan tersandera oleh dunia.</li>
<li>Jauh dari      ketaatan dan bangga terhadap kehinaan.</li>
<li>Sombong,      menolak kebenaran dan meremehkan manusia.</li>
<li>Cenderung      dzalim, tamak dan mendengki.</li>
</ul>
<p>Jika sekarang kita merasa hati kita berada di no 2 atau 3 ada baiknya kita harus segera memberikan nutrisi bagi hati kita agar hati kita kembali sehat dan bisa kembali menjalankan fungsinya dengan baik, menjadi panglima bagi tubuh. Nutrisi hati itu adalah dzikir, membaca al-Qur’an, istigfar, qiyamul lail (sholat malam), sering berdoa, serta membaca shalawat atas Nabi saw. Namun jika ternyata hati kita berada seperti di no 1 jangan bangga dulu. Kita tetap harus waspada dengan 4 racun yang harus kita hindari yaitu : banyak bicara, banyak makan, mengumbar pandangan, dan salah pergaulan.</p>
<p>Nah sudah tahu kan sekarang? Jika sudah tahu yuk sama-sama mulai menjaga dan membersihkan hati kita agar kita menjadi hati yang sehat dengan melalukan amal-amal yang sederhana seperti sholat fardu di masjid, sholat duha, dzikir, qiyamul lail, membaca al-Qur’an dll. Jika kita sudah memiliki kebersihan hati kita insyaAllah kita akan selalu mendapatkan hidayah sehingga kita bisa mengelola motivasi hidup kita dengan benar, mengarahkan perjalanan hidup kita, melalui profesi yang kita pilih dan agar kita berjalan ke tujuan akhir yang benar. Ke kebahagiaan akhir di akhirat. Ke surga Allah yang penuh kenikmatan.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanifarrul.wordpress.com/415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanifarrul.wordpress.com/415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanifarrul.wordpress.com/415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanifarrul.wordpress.com/415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanifarrul.wordpress.com/415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanifarrul.wordpress.com/415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanifarrul.wordpress.com/415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanifarrul.wordpress.com/415/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanifarrul.wordpress.com/415/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanifarrul.wordpress.com/415/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifarrul.wordpress.com&blog=5882857&post=415&subd=hanifarrul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/09/14/segumpal-darah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6b46a50a3b7774454f77d1dac4c7fe08?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanifarrul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://4.bp.blogspot.com/_qmeu-mPqztE/R6Ry63BeWcI/AAAAAAAAAC8/q-4Ek1tk4PQ/s400/rapuh.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">hati</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Satu Sisi akan Terlahir</title>
		<link>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/09/07/satu-sisi-akan-terlahir/</link>
		<comments>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/09/07/satu-sisi-akan-terlahir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 07 Sep 2009 01:39:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
				<category><![CDATA[kata hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanifarrul.wordpress.com/2009/09/07/satu-sisi-akan-terlahir/</guid>
		<description><![CDATA[Untuk pertama kalinya aku merasa baik-baik saja setelah hitamnya cobaan kemarin datang. Cobaan yang mencoba menghempasku ke jalan penuh liku. Tak butuh waktu yang lama. Tak ada tangis penyesalan atau mengurung diri dalam kamar. Banyak sahabatku yang sempat merasa khawatir akan kondisiku. Aku bersyukur karena masih ada orang yang peduli denganku. Mungkin sebuah keberuntungan, saat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifarrul.wordpress.com&blog=5882857&post=412&subd=hanifarrul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignright" src="http://1.bp.blogspot.com/_THYOpICxgr4/R05Ubh8aOpI/AAAAAAAAAQw/_rLnSSxwy9I/s400/sunyi.jpg" alt="satu sisi" width="295" height="212" />Untuk pertama kalinya aku merasa baik-baik saja setelah hitamnya cobaan kemarin datang. Cobaan yang mencoba menghempasku ke jalan penuh liku. Tak butuh waktu yang lama. Tak ada tangis penyesalan atau mengurung diri dalam kamar. Banyak sahabatku yang sempat merasa khawatir akan kondisiku. Aku bersyukur karena masih ada orang yang peduli denganku. Mungkin sebuah keberuntungan, saat ini aku mempunyai cukup logika untuk tidak terpuruk. Kata Dewa 19, satu sisi akan terhapus menyisakan perih, tetapi satu sisi juga akan terlahir memecah sunyi. Akan ada sesuatu baru yang akan terlahir. Dan kurasa sesuatu itu akan sangat memukauku nanti.<span id="more-412"></span></p>
<p>Berawal dari langkah yang sederhana. Menerima. Menerima ketentuan takdir Allah. Semua ketentuan-Nya aku yakin adalah yang terbaik bagiku. Mencoba ikhlas. Memang tak mudah. Hanya saja ujung dalam setiap amalan kita itu harus coba kita sematkan agar ada ketentraman hati ada pada akhirnya karena sesuatu yang kita ikhlaskan itu akan digantikan dengan yang lebih baik oleh-Nya. Bersabarlah dan jangan berhenti untuk berharap.</p>
<p>Cobaan itu juga mungkin takkan bisa kulupakan seumur hidup. Jadi kubiarkan itu menjadi bagian yang penting untuk dikenang sebagai pembentuk diriku yang sekarang. Aku hari ini adalah hasil dari tambal sulam, terpuruk dan bangkit serta mencoba mewarnai dan terwarnai ketika bersinggungan dengan orang-orang. Itulah sebabnya mengapa kepala manusia tak bisa berputar 180 derajat. Aku tak bisa melihat ke belakan seluruhnya yang berarti aku tak boleh melihat ke belakang terlalu lama. Aku hanya disuruh menengok sebentar, menjadikan pelajaran dan mencari hikmah dari semua yang sudah terjadi. Lalu aku harus terus melanjutkan hidup. Terus maju ke depan. Menatap masa depan karena kurasa ada sesuatu yang juga sedang menungguku disana.</p>
<p><img class="alignright" src="http://djandjan.com/images/plw/situ_lembang_sunrise2.jpg" alt="satu sisi" width="295" height="212" />Pesan terakhir untukkmu wahai diriku. Jadikan cobaan ini sebagai panggilan sayang dari Dzat yang selama ini kau cari, sang Pembolak-balik hati, Allah swt. Dia ingin engkau kembali mendekat kepada-Nya. Dia ingin menguji seberapa besarkah cintamu kepada-Nya. Dia juga tak akan mengujimu dengan ujian yang tak bisa kau lalui. Jika semua itu bisa engkau selesaikan, yakinlah semua yang hilang akan tergantikan dengan yang lebih baik asalkan engkau ikhlas. Jadi &#8220;Mada Mada Dane&#8221;, tetap tersenyum dan nikmati semuanya yang ada karena hidup ini adalah anugerah. Teruslah menjadi kuat hingga satu sisi itu terlahir memecah sunyi.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanifarrul.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanifarrul.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanifarrul.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanifarrul.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanifarrul.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanifarrul.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanifarrul.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanifarrul.wordpress.com/412/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanifarrul.wordpress.com/412/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanifarrul.wordpress.com/412/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifarrul.wordpress.com&blog=5882857&post=412&subd=hanifarrul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/09/07/satu-sisi-akan-terlahir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6b46a50a3b7774454f77d1dac4c7fe08?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanifarrul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://1.bp.blogspot.com/_THYOpICxgr4/R05Ubh8aOpI/AAAAAAAAAQw/_rLnSSxwy9I/s400/sunyi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">satu sisi</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://djandjan.com/images/plw/situ_lembang_sunrise2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">satu sisi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Metamorfosa yang Sempurna</title>
		<link>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/08/27/metamorfosa-yang-sempurna/</link>
		<comments>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/08/27/metamorfosa-yang-sempurna/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 02:29:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
				<category><![CDATA[capung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanifarrul.wordpress.com/?p=406</guid>
		<description><![CDATA[Hari-hari kita masih akan terus berfluktuasi. Membuat grafik naik turun yang tidak pasti. Tak selamanya seperti rumus matematika parabola, y =ax2 + bx + c yang bisa diprediksi dengan akar-akar persamaannya. Kadang datang semangat yang menggelora, kadang ada rasa malas yang menyandera jiwa. Meski semuanya berubah, ada sesuatu yang harusnya kita yakini agar tidak berubah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifarrul.wordpress.com&blog=5882857&post=406&subd=hanifarrul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignright" src="http://farm4.static.flickr.com/3039/3038051674_7265a99f20.jpg" alt="ulat" width="295" height="212" />Hari-hari kita masih akan terus berfluktuasi. Membuat grafik naik turun yang tidak pasti. Tak selamanya seperti rumus matematika parabola, y =ax<sup>2</sup> + bx + c yang bisa diprediksi dengan akar-akar persamaannya. Kadang datang semangat yang menggelora, kadang ada rasa malas yang menyandera jiwa. Meski semuanya berubah, ada sesuatu yang harusnya kita yakini agar tidak berubah yaitu perubahan itu sendiri.  Apalagi memasuki bulan Ramadhan kali ini. Sesuatu harus berubah dalam diri kita. Tentu saja menuju perubahan yang lebih baik. Kau paham dan setuju dengan pernyataanku ini?<span id="more-406"></span></p>
<p>Menjijikan. Kita mungkin pada dasarnya adalah makhluk yang menjijikan. Banyak dosa kecil dan besar yang pernah kita lakukan yang tak pernah orang lain ketahui. Dan kita masih saja merasa aman disini. Kita masih seringkali menipu diri kita sendiri. Kita sangat senang ketika dipuji oleh orang lain. Padahal mereka tidak tahu siapa kita sebenarnya. Mereka tidak tahu bagaimana aktivitas sehari-hari kita. Mereka mungkin menilai karena hanya tahu sampai sebatas kulit ari sehingga pujian itu seringkali melalaikan penilaian-penilaian orang-orang terdekat kita seperti orang tua, suami atau istri, kakak, adik, sopir, pembantu, karyawan serta sahabat. Merekalah yang sebenarnya lebih mengenal diri kita daripada orang lain. Mereka yang setiap hari bersinggungan dan bertatap muka dengan kita. Namun, kita sering melalaikan penilaian mereka terhadap diri kita.</p>
<p>Beruntung. Mungkin itu kata yang tepat untuk kita. Kita orang yang beruntung karena Allah masih mencintai kita dengan menutup aib-aib kita. Maka bersyukurlah karena itu. Jika saja Allah membuka aib kita seluruhnya, mungkin tak ada orang yang mau bersahabat dengan kita karena mereka merasa “jijik” dengan diri kita yang sebenarnya. Kita yang sering menipu diri sendiri. Dan anehnya banyak dari kita merasa bangga dengan itu. Kita merasa sudah cukup dengan kebaikan yang kita lakukan. Kita merasa sudah dewasa sehingga tak ada kata salah dalam kamus kita.</p>
<p style="text-align:left;">Ramadhan kali ini. Ada perubahan yang harus terjadi pada diri kita pada bulan ini. Kita yang layaknya seperti ulat sekarang harus mencoba terus berusaha memperbaiki diri. Bermetamorfosa secara sempurna sehingga setelah bulan Ramadhan nanti akan ada kupu-kupu indah sebagai bentuk akhir diri kita. Tak sekedar berlelah-lelah menahan lapar dan dahaga. Ada kebaikan di tiap detiknya. Ada peningkatan dari bulan-bulan sebelumnya. Tilawah kita bertambah. Sholat sunnah yang sebelumnya tak pernah kita lakukan bisa kita mulai sekarang dsb. Meski itu semua tidak mudah dilakukan setiap orang seperti membalik telapak tangan. Namun, jangan menyerah. Mari terus berusaha bersama-sama agar kita bisa bermetamorfosa secara sempurna. Pasti menyenangkan menjadi kupu-kupu yang indah.<img class="aligncenter" src="http://geoweek.files.wordpress.com/2008/10/2907144p.jpg?w=295&#038;h=212" alt="kupu-kupu" width="295" height="212" /></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanifarrul.wordpress.com/406/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanifarrul.wordpress.com/406/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanifarrul.wordpress.com/406/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanifarrul.wordpress.com/406/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanifarrul.wordpress.com/406/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanifarrul.wordpress.com/406/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanifarrul.wordpress.com/406/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanifarrul.wordpress.com/406/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanifarrul.wordpress.com/406/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanifarrul.wordpress.com/406/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifarrul.wordpress.com&blog=5882857&post=406&subd=hanifarrul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/08/27/metamorfosa-yang-sempurna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6b46a50a3b7774454f77d1dac4c7fe08?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanifarrul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://farm4.static.flickr.com/3039/3038051674_7265a99f20.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ulat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://geoweek.files.wordpress.com/2008/10/2907144p.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">kupu-kupu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jingga</title>
		<link>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/08/18/jingga/</link>
		<comments>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/08/18/jingga/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 04:15:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
				<category><![CDATA[kata hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanifarrul.wordpress.com/2009/08/18/jingga/</guid>
		<description><![CDATA[Jingga. Mungkin itu warna dirinya. Putih menyilaukan pada awalnya. Dan warna itu mulai mencairkan semua kebekuan sel-sel darahku karena lamanya menunggu. Beberapa tahun telah kulalui dengan segala jerih payah untuk tak hentinya berharap. Terus berharap dengan segala ketidakpastian akan masa depan. Setidaknya harusnya muncul  satu titik cerah walau buram seperti harapan. Namun, yang kunanti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifarrul.wordpress.com&blog=5882857&post=400&subd=hanifarrul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img class="alignleft" src="http://3.bp.blogspot.com/_vhOM2gbO8SM/R6H0Veu-u7I/AAAAAAAAAE0/WN_oz7kQSRY/s400/jingga.jpg" alt="jingga" width="295" height="212" />Jingga. Mungkin itu warna dirinya. Putih menyilaukan pada awalnya. Dan warna itu mulai mencairkan semua kebekuan sel-sel darahku karena lamanya menunggu. Beberapa tahun telah kulalui dengan segala jerih payah untuk tak hentinya berharap. Terus berharap dengan segala ketidakpastian akan masa depan. Setidaknya harusnya muncul  satu titik cerah walau buram seperti harapan. Namun, yang kunanti tak juga datang. Akhirnya laci-laci prasangka telah penuh dan membuatku kelelahan. Aku harus merelakan sesuatu itu kembali kepada asalnya.<span id="more-400"></span></p>
<p>Entah ini sebuah keberuntungan atau bukan, aku merasa kelelahanku kini telah bermuara. Saat aku melihat cakrawala bersamaan dengan tirai malam yang akan menutup hari. Ya saat warna jingga nampak jelas terlihat. Indah. Meski sedikit terbiaskan oleh awan. Semilir angin sore yang dibawanya menggelitik untuk memunculkan tawa dan canda yang menggairahkan. Suasana menjadi tidak sedingin dahulu. Semuanya karena keramahan dan ketulusannya saat menyapaku.</p>
<p>Pergulatan hariku mungkin akan tetap menyisakan haru biru. Namun, masih akan ada sejuta kisah yang ingin aku tulis dengan penuh pesona di tiap detiknya. Meski ombak akan selalu datang menghapusnya dengan paksa jika pasang tiba. Dan rasa raguku pun kuharap musnah terbakar oleh rasa rindu yang perlahan terkejar. Hingga batas-batas kesuyian yang sering menyiksaku kutinggalkan. Aku serasa menemukan kembali bagian diriku yang hilang. Mozaik keriangan juga kejujuran yang paling asli dari fase kehidupanku.</p>
<p>Ringan. Itu yang kurasakan sekarang. Ada sinar hangat yang menyemangatkan di tiap paginya. Ada senyum ikhlas yang lama tak kukembangkan di tiap jalannya. Cerita kini lagi bukan sekedar wacana. Di tiap episodenya labirin konspirasi telah membuat hidupku menjadi kian unik untuk dinikmati.  Aku terpagut bersama sisi dunianya yang serupa tetapi tak sama.</p>
<p>Mungkin saat ini aku belum mengerti dengan pasti. Ini sebuah kenikmatan atau cobaan dari sang Illahi. Hanya saja semua logika memberikan dukungannya. Apalagi realita sejalan dengan asa. Aku tak bisa berlari dari semua ini. Ini harus kuhadapi. Berharap waktuku kembali terisi dengan kebaikan. Tak lagi berkelana dengan kebingungan. Tak lagi berdalih ketika langkah-langkahku tertinggal.</p>
<p style="text-align:left;"><img class="aligncenter" src="http://katasa07.files.wordpress.com/2007/08/lorong-jingga.jpg?w=229&#038;h=309" alt="jingga" width="229" height="309" />Aku memang tak bisa menebak akhir cerita. Apakah semua kembali menjadi putih? Menjadi kembali menyilaukan? Atau akan ada warna lain yang kutemui? Semua itu tak bisa diprediksi apalagi dunia terus saja berubah. Aku dan mungkin warnanya. Maka kedewasaan sikap untuk tidak memaksakan kehendak adalah perjanjiannya. Hanya saja ijinkan tetap kukenang warnamu. Sinar lembut di batas hari. Jingga.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanifarrul.wordpress.com/400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanifarrul.wordpress.com/400/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanifarrul.wordpress.com/400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanifarrul.wordpress.com/400/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanifarrul.wordpress.com/400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanifarrul.wordpress.com/400/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanifarrul.wordpress.com/400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanifarrul.wordpress.com/400/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanifarrul.wordpress.com/400/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanifarrul.wordpress.com/400/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifarrul.wordpress.com&blog=5882857&post=400&subd=hanifarrul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/08/18/jingga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6b46a50a3b7774454f77d1dac4c7fe08?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanifarrul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://3.bp.blogspot.com/_vhOM2gbO8SM/R6H0Veu-u7I/AAAAAAAAAE0/WN_oz7kQSRY/s400/jingga.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jingga</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://katasa07.files.wordpress.com/2007/08/lorong-jingga.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jingga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Euforia</title>
		<link>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/08/06/euforia/</link>
		<comments>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/08/06/euforia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 10:19:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hanif</dc:creator>
				<category><![CDATA[kata hati]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hanifarrul.wordpress.com/?p=395</guid>
		<description><![CDATA[Malam itu kami berbicara sambil berbaring menatap langit-langit kamarku sehabis sholat isha. Di atas kasur merah yang sepreinya baru saja kering karena ku jemur siang tadi. Kami berbicara tanpa alur. Bernostalgia dengan masa lalu. Merangkai acak peristiwa demi peristiwa. Menertawakan kebodohan, keculunan, juga mungkin kenarsisan di masa lalu. Dan tanpa tersadar, kami sering memunculkan beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifarrul.wordpress.com&blog=5882857&post=395&subd=hanifarrul&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:left;"><img class="aligncenter" src="http://kfk.kompas.com/system/files/imagecache/sfk_preview_600x600/tyoadhi_kuncup_meleleh.jpg" alt="euforia" width="229" height="309" />Malam itu kami berbicara sambil berbaring menatap langit-langit kamarku sehabis sholat isha. Di atas kasur merah yang sepreinya baru saja kering karena ku jemur siang tadi. Kami berbicara tanpa alur. Bernostalgia dengan masa lalu. Merangkai acak peristiwa demi peristiwa. Menertawakan kebodohan, keculunan, juga mungkin kenarsisan di masa lalu. Dan tanpa tersadar, kami sering memunculkan beberapa rahasia baru kami masing-masing. Menyemaikan diskusi tentang arti kehidupan dan bagaimana setiap kejadian dalam kehidupan itu disikapi. Hanya saja ceritanya yang paling dominan malam itu adalah tentang euforia yang sedang dialaminya. <span id="more-395"></span></p>
<p>Ya cerita euforia itu masih saja berlanjut. Belum terpengaruh panas teriknya matahari di siang hari. Juga belum terpengaruh dinginnya malam yang selalu menyelimuti akhir-akhir ini. Euforia itu telah menyamankan suasananya di setiap waktunya. Wajar saja, hasrat baru saja menguatkan tunasnya hingga kuncup rasa seakan telah membutakan matanya. Percuma saja berbicara logika karena euforia telah menyamarkannya. Entah ini benar atau tidak, itulah yang kulihat darinya saat ini.</p>
<p>Akan selalu ada pembenaran atas sikapnya. Akan selalu ada alasan yang membuatnya merasa benar atas apa yang dilakukannya dengan memainkan semua logika dan kebutuhan manusiawinya. Memang wajar. Hanya saja itu membuatku tak tahu lagi harus berbicara apa. Saat ini aku merasa ia tak tahu arah hatinya. Meski aku yakin ia orang yang kuat. Meski aku yakin dia orang yang cukup pintar mengolah dan menerjemahkan perasaan. Hanya saja, seorang Adam pun masih bisa terbuai bujukan setan hingga menurunkannya dari surga ke dunia apalagi hanya seorang manusia biasa seperti dirinya dan diriku? Sadarkah kami jika kami sedang dibuai setan dengan segala nuansa indahnya tentang dunia? Saat ini atau di lain waktu?</p>
<p>Sebagai sahabatnya aku mencoba mengingatkannya karena kurasa ia telah keluar dari batas-batas yang seharusnya. Aku melakukannya karena mempertimbangkan konsekuensi di lain hari dan mungkin dengan sedikit pengalaman yang sama dengan yang pernah kualami. Mungkin hanya ini bentuk kepedulianku yang bisa kulakukan hingga akhirnya ia juga menyadari euforia ini. Namun, anehnya mengapa ia tetap saja tak mau beranjak? Hm…Sepertinya kebutuhan manusiawinya bertendensi untuk memilih keputusan melanjutkan semua itu. Apakah ini sama seperti ketika kita memilih sesuatu itu bukan karena itu benar, tetapi karena kita menginginkannya? Adakah yang bisa menjawab pertanyaan ini untukku?</p>
<p>Bingung. Aku benar-benar bingung. Tak tahu mana lagi yang salah juga mana yang benar. Aku atau dirinya? Atau kami sama-sama salahnya, juga sama-sama benarnya? Mungkin waktu yang akan menjawab semuanya. Ia yang akan membuktikan dan memaparkan kebenaran dengan semua fakta-fakta dan realitanya secara lugas. Semoga saja jika jawaban atas semua itu muncul nanti, kami bisa menyikapinya dengan dewasa. Mungkin akan ada yang sakit hati, tetapi kuharap hanya sebentar. Jikapun aku yang salah, aku akan mengakui dan meminta maaf kepadanya. Jikapun dia yang salah, aku akan mencoba memaafkannya karena kami sepertinya sedang sama-sama belajar bagaimana jika euforia itu terjadi pada kami  masing-masing di lain hari.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hanifarrul.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hanifarrul.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hanifarrul.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hanifarrul.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hanifarrul.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hanifarrul.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hanifarrul.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hanifarrul.wordpress.com/395/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hanifarrul.wordpress.com/395/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hanifarrul.wordpress.com/395/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hanifarrul.wordpress.com&blog=5882857&post=395&subd=hanifarrul&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/08/06/euforia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6b46a50a3b7774454f77d1dac4c7fe08?s=96&#38;d=&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hanifarrul</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://kfk.kompas.com/system/files/imagecache/sfk_preview_600x600/tyoadhi_kuncup_meleleh.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">euforia</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>