<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar untuk cinderajiwa hanif_ar</title>
	<atom:link href="http://hanifarrul.wordpress.com/comments/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hanifarrul.wordpress.com</link>
	<description>setiap perjalanan punya batu kerikil dan angin yang melengkapinya</description>
	<lastBuildDate>Sat, 07 Nov 2009 02:50:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Komentar di Tumbuhlah dengan Utuh oleh Badruz</title>
		<link>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/11/01/tumbuhlah-dengan-utuh/#comment-877</link>
		<dc:creator>Badruz</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 02:50:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hanifarrul.wordpress.com/?p=457#comment-877</guid>
		<description>Lagi-lagi negara tidak begitu sensitif. sebenarnya ini bisa di atasi dengan cepat, jika negera berfungsi dengan baik. Desa adalah miniatur negara. desa memungkinkan lebih dekat, lebih paham akan kondisi warganya. tapi alokasi dana desa masih habis hanya untuk pembangunan fisik saja, jalan dll. 

salam.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Lagi-lagi negara tidak begitu sensitif. sebenarnya ini bisa di atasi dengan cepat, jika negera berfungsi dengan baik. Desa adalah miniatur negara. desa memungkinkan lebih dekat, lebih paham akan kondisi warganya. tapi alokasi dana desa masih habis hanya untuk pembangunan fisik saja, jalan dll. </p>
<p>salam.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Memaknai Kerutan Kelelahan oleh racheedus</title>
		<link>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/10/26/memaknai-kerutan-kelelahan/#comment-876</link>
		<dc:creator>racheedus</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 00:35:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hanifarrul.wordpress.com/?p=450#comment-876</guid>
		<description>Trenyuh sekali membacanya, Mas Hanif. Kita sebagai anak memang tak kan pernah lunas membayar hutang budi kepada orang tua kita. 

Semoga kelak mampu mengantarkan Bapak dan Simbok menjadi tamu Allah di Baitullah. Amiin.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Trenyuh sekali membacanya, Mas Hanif. Kita sebagai anak memang tak kan pernah lunas membayar hutang budi kepada orang tua kita. </p>
<p>Semoga kelak mampu mengantarkan Bapak dan Simbok menjadi tamu Allah di Baitullah. Amiin.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Tumbuhlah dengan Utuh oleh racheedus</title>
		<link>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/11/01/tumbuhlah-dengan-utuh/#comment-875</link>
		<dc:creator>racheedus</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 00:24:11 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hanifarrul.wordpress.com/?p=457#comment-875</guid>
		<description>Anak jalanan memang merupakan ironi. Orang tua merupakan pihak yang paling bertanggung jawab, di samping pihak-pihak lain. Meski dihimpit kesimpinan, masih banyak orang tua yang tidak mengorbankan anak mereka untuk jadi anak jalanan. Meski anaknya terlahir di luar nikah, masih ada orang tua yang tak rela mencampakkan anak mereka yang tak berdosa di jalanan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Anak jalanan memang merupakan ironi. Orang tua merupakan pihak yang paling bertanggung jawab, di samping pihak-pihak lain. Meski dihimpit kesimpinan, masih banyak orang tua yang tidak mengorbankan anak mereka untuk jadi anak jalanan. Meski anaknya terlahir di luar nikah, masih ada orang tua yang tak rela mencampakkan anak mereka yang tak berdosa di jalanan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Tumbuhlah dengan Utuh oleh hak1m</title>
		<link>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/11/01/tumbuhlah-dengan-utuh/#comment-874</link>
		<dc:creator>hak1m</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 22:53:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hanifarrul.wordpress.com/?p=457#comment-874</guid>
		<description>rasa itu ada ya? gak eksis tapi nyata punya esensi di dalann logika</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>rasa itu ada ya? gak eksis tapi nyata punya esensi di dalann logika</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di &#8220;Sedikit Tentang Aku&#8221; oleh hak1m</title>
		<link>http://hanifarrul.wordpress.com/tentang-aku/#comment-873</link>
		<dc:creator>hak1m</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Nov 2009 09:52:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hanifarrul.wordpress.com/?page_id=128#comment-873</guid>
		<description>assalamu&#039;alaykum akhi
afwan lama gak berkunjung. Baru membangun adat baru, kebiasaan baru n kemudian mbikin blog baru di Wordpress.com

check it out
www.hak1m.wordpress.com

wassalamu&#039;alaykum wr wb

Umar Hakim
perikanan 04


&lt;em&gt;hanif : Wa&#039;alaikumsalam
Wah sudah pindah ke rumah baru. Selamat, insyaAllah akan kukunjungi, btw rumah lama gimana?&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>assalamu&#8217;alaykum akhi<br />
afwan lama gak berkunjung. Baru membangun adat baru, kebiasaan baru n kemudian mbikin blog baru di WordPress.com</p>
<p>check it out<br />
<a href="http://www.hak1m.wordpress.com" rel="nofollow">http://www.hak1m.wordpress.com</a></p>
<p>wassalamu&#8217;alaykum wr wb</p>
<p>Umar Hakim<br />
perikanan 04</p>
<p><em>hanif : Wa&#8217;alaikumsalam<br />
Wah sudah pindah ke rumah baru. Selamat, insyaAllah akan kukunjungi, btw rumah lama gimana?</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Tumbuhlah dengan Utuh oleh BeLajaR</title>
		<link>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/11/01/tumbuhlah-dengan-utuh/#comment-872</link>
		<dc:creator>BeLajaR</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 09:35:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hanifarrul.wordpress.com/?p=457#comment-872</guid>
		<description>mungkin sudah waktunya dirimu mengaplikasikan ilmu yg kau terima di bangku kuliah...
*sebenarny berat menyebut kata2 yg berhubungan dgn &#039;kuliah&#039; :D


&lt;em&gt;hanif : Semoga saja bisa, masih bingung nih...habis agak lupa materi2 yang kudapat di bangku kuliah, perlu refres lagi sedikit he he he&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>mungkin sudah waktunya dirimu mengaplikasikan ilmu yg kau terima di bangku kuliah&#8230;<br />
*sebenarny berat menyebut kata2 yg berhubungan dgn &#8216;kuliah&#8217; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<p><em>hanif : Semoga saja bisa, masih bingung nih&#8230;habis agak lupa materi2 yang kudapat di bangku kuliah, perlu refres lagi sedikit he he he</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Tumbuhlah dengan Utuh oleh Jafar Soddik</title>
		<link>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/11/01/tumbuhlah-dengan-utuh/#comment-871</link>
		<dc:creator>Jafar Soddik</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 05 Nov 2009 06:40:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hanifarrul.wordpress.com/?p=457#comment-871</guid>
		<description>Di Jakarta walaupun sudah ada peraturan daerah yang melarang keras pengamen, tukang asongan untuk berkeliaran serta larangan untuk memberikan uang atau membeli dari para pengguna jalan tapi tetap saja akan banyak kita jumpai mereka. 

Persoalan pengemis bukanlah persoalan yang rumit. Seandainya tidak ada ketimpangan ekonomi daerah dan kota, seandainya taraf hidup masyarakat kita baik dan merata tentu mereka-mereka akan merasa &#039;hina&#039; untuk menjadi pengemis. Namun dalam penerapannya justru persoalan yang tidak rumit ini akan terkait dengan banyak faktor dan itulah yang membuatnya menjadi rumit sekali :D.

&lt;em&gt;
hanif : Mereka menjadikan mengemis sebagai pekerjaan. Fisik mereka masih kuat, dan seringnya memanfaatkan anak2 untuk menarik simpati. Padahal mungkin anak itu bukan anaknya alias nyewa. Makanya aku kasihan akan nasib anak2 yang seperti itu. Mereka dimanfaatkan tetapi tak sadar. Kasihan kan ?&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Di Jakarta walaupun sudah ada peraturan daerah yang melarang keras pengamen, tukang asongan untuk berkeliaran serta larangan untuk memberikan uang atau membeli dari para pengguna jalan tapi tetap saja akan banyak kita jumpai mereka. </p>
<p>Persoalan pengemis bukanlah persoalan yang rumit. Seandainya tidak ada ketimpangan ekonomi daerah dan kota, seandainya taraf hidup masyarakat kita baik dan merata tentu mereka-mereka akan merasa &#8216;hina&#8217; untuk menjadi pengemis. Namun dalam penerapannya justru persoalan yang tidak rumit ini akan terkait dengan banyak faktor dan itulah yang membuatnya menjadi rumit sekali <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .</p>
<p><em><br />
hanif : Mereka menjadikan mengemis sebagai pekerjaan. Fisik mereka masih kuat, dan seringnya memanfaatkan anak2 untuk menarik simpati. Padahal mungkin anak itu bukan anaknya alias nyewa. Makanya aku kasihan akan nasib anak2 yang seperti itu. Mereka dimanfaatkan tetapi tak sadar. Kasihan kan ?</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Tumbuhlah dengan Utuh oleh kidungjingga</title>
		<link>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/11/01/tumbuhlah-dengan-utuh/#comment-870</link>
		<dc:creator>kidungjingga</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 10:03:47 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hanifarrul.wordpress.com/?p=457#comment-870</guid>
		<description>hampir setiap hari, saya melewati simpangan pasar simpang dago selama setahun ini. Dan anak kecil itu menggumamkan entah lagu apa setiap kali lampu merah menyala, bahkan ketika dia masih menggunakan popok setahun yang lalu. usianya sekarang saya rasa sekitar 2 tahun, bicaranya pun belum jelas. kadang ada yang memberinya uang, yang segera dia serahkan pada ibu2 yang menunggunya di pinggir trotoar, yang juga menerima uang dari anak2 lain yang sedikit lebih besar. ga pernah tahu harus marah, ironis, sedih, getir atau gimana?

Saya ga akan bilang ini tanggung jawab siapa atau siapa. Tapi ini tanggung jawab mata saya karena melihatnya, meski saya tetap naif dengan belum pernah tahu harus berbuat apa.

&lt;em&gt;
hanif : Sama. Hanya saja berita santer yang kudengar mereka diorganisir oleh seseorang. Mengemis menjadi sebuah pekerjaan yang menghasilkan banyak uang dalam waktu sehari. Makanya kadang jadi merasa gimana gitu ketika anak2 kecil disewa untuk menghasilkan uang.&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>hampir setiap hari, saya melewati simpangan pasar simpang dago selama setahun ini. Dan anak kecil itu menggumamkan entah lagu apa setiap kali lampu merah menyala, bahkan ketika dia masih menggunakan popok setahun yang lalu. usianya sekarang saya rasa sekitar 2 tahun, bicaranya pun belum jelas. kadang ada yang memberinya uang, yang segera dia serahkan pada ibu2 yang menunggunya di pinggir trotoar, yang juga menerima uang dari anak2 lain yang sedikit lebih besar. ga pernah tahu harus marah, ironis, sedih, getir atau gimana?</p>
<p>Saya ga akan bilang ini tanggung jawab siapa atau siapa. Tapi ini tanggung jawab mata saya karena melihatnya, meski saya tetap naif dengan belum pernah tahu harus berbuat apa.</p>
<p><em><br />
hanif : Sama. Hanya saja berita santer yang kudengar mereka diorganisir oleh seseorang. Mengemis menjadi sebuah pekerjaan yang menghasilkan banyak uang dalam waktu sehari. Makanya kadang jadi merasa gimana gitu ketika anak2 kecil disewa untuk menghasilkan uang.</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Tumbuhlah dengan Utuh oleh sang pelembut hati</title>
		<link>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/11/01/tumbuhlah-dengan-utuh/#comment-869</link>
		<dc:creator>sang pelembut hati</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 02:59:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hanifarrul.wordpress.com/?p=457#comment-869</guid>
		<description>salam

ironi sekalis ya mas...mau bantu tapi kayaknya tangan kita masih sangat kecil untuk membantu. Itu tanggung jawab negara seharusnya...

sang pelembut hati

&lt;em&gt;
hanif : Lagi-lagi kita cuma bisa berharap.&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>salam</p>
<p>ironi sekalis ya mas&#8230;mau bantu tapi kayaknya tangan kita masih sangat kecil untuk membantu. Itu tanggung jawab negara seharusnya&#8230;</p>
<p>sang pelembut hati</p>
<p><em><br />
hanif : Lagi-lagi kita cuma bisa berharap.</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Komentar di Tumbuhlah dengan Utuh oleh Samsul Arifin</title>
		<link>http://hanifarrul.wordpress.com/2009/11/01/tumbuhlah-dengan-utuh/#comment-868</link>
		<dc:creator>Samsul Arifin</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 01:55:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://hanifarrul.wordpress.com/?p=457#comment-868</guid>
		<description>Lha kamu ngasih uang ga bud, setelah tahu temanmu merogoh sakunya?

&lt;em&gt;
hanif : Ngga je pin, ga ada uang receh....*jujur&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Lha kamu ngasih uang ga bud, setelah tahu temanmu merogoh sakunya?</p>
<p><em><br />
hanif : Ngga je pin, ga ada uang receh&#8230;.*jujur</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
