
Melangkah kakiku perlahan. Masih dalam mendung yang menggelayut. Meneguk semua keparauan dunia. Aku memulai semuanya dari awal. Terjun dalam jurang begitu dalam. Dari sana banyak petualangan yang kualami. Banyak kesadaran baru yang aku mulai mengerti. Benang merah antara peristiwa demi peristiwa kini tampak perlahan. Seperti peribahasa kalau ada asap pastinya ada api. Hanya saja seringkali sulit sekali mengambil sikap yang bijak untuk menanggapi sebuah peristiwa. Aku masih sering latah. Hah!!! Saat aku menyadari aku salah bersikap aku hanya bisa menyesal dalam hati.
Kurasa aku tak jua bisa menjadi dewasa. Tak bisa menjadi lebih peka. Aku menjadi seseorang yang memperumit semuanya yang seharusnya sederhana. Hm..apa ini semua pengaruh dari keinginan yang seringkali melenceng dengan kenyataan? Atau ini apologiku untuk membela diriku karena ketidaksabaran untuk mencapai semuanya dengan proses? Ya proses. Penerjemahan dari usaha beriring dengan waktu. Mungkin mindsetku yang ingin semuanya serba instan. Aku ingin hasil yang cepat. Aku selalu mengharapkan imbalan dari semua yang kuperbuat karena aku sudah melakukan semuanya dengan benar. Sesuai prosedurnya.
Apa Allah punya rencana khusus untukku? Untuk mengurai semua kamuflase yang kulakukan. Memecahkan cangkang yang mengungkungku. Aku tak tahu pasti. Sekarang aku hanya bisa berjalan menyusuri setiap sudut peristiwa. Menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul di sela-sela waktuku menghitung keberartian diriku di dunia. Di sela-sela senyum-senyum dan kepedulian yang palsu yang datang dan pergi. Dalam janji-janji yang seringkali tak ditepati. Aku kembali menyulam mimpi demi mimpi.
Aku bukanlah seseorang yang kuat. Aku masihlah rapuh. Namun, aku sering terlihat kuat di luar. Jangan tertipu dengan kamuflaseku. Jangan pernah mengharapkanku untuk memapahmu. Jadilah kuat dengan menjadi diri sendiri. Aku juga sedang belajar menjadi kuat. Jangan pernah berharap kepada manusia. Kau akan kecewa. Berharaplah kepada Allah, Tuhanmu yang menghadirkan mentari pagi yang hangat. Yang menghadirkan kegelapan malamnya untuk menenangkanmu. Tak ada yang lebih mengertimu daripada-Nya. Jadi mainkan peran yang dipilih-Nya untukmu. Mungkin dengan begitu potensimu akan lebih teroptimalkan. Mungkin dengan itu kita bisa menghapus kerapuhan masing-masing.
sumber foto : http://4.bp.blogspot.com/


Halo, Budi.

Menurutku, jadi mandiri bagus sekali, tapi sebagai mahluk sosial, hidup saling memapah kurasa ga ada salahnya. Misalnya suami istri. Masing2 punya kelemahan, kekuatan, tapi mereka saling melengkapi.
*nyambung ga komenku dengan postinganmu? :p*
hanif : Ha ha ha mentang-mentang baru nikah nih…
tetap semangat Nif.. semua akan ada hikmah besarnya… dan itu selalu terbukti….
dalam langkah perlahan, pelan aku berkunjung kemari semoga bisa berbagi kebahagiaan
selalu saja begitu…
berat… bahasanya…
Isu isu seperti kemiskinan, keadilan sosial, Islam sebagai ad Din yang syumul cara hidup yang menyeluruh , sekularisasi, dakwah, pendidikan dan pembangunan insan amat dekat di hati beliau.