Kita bertemu dalam hijaunya idealisme. Dalam kegagapan memaknai fase menjadi dewasa, kita perlahan-lahan menjadi akrab. Kau dan aku sama-sama membuka sedikit demi sedikit kulit kemunafikan kita masing-masing. Tanpa kita sadari. Tanpa rekayasa. Semua berjalan secara wajar. Seperti sedang membaca dan memerankan skenario sebuah drama, kita mengikuti alur yang seakan sudah dibuat untuk kita. Kau dan aku akhirnya sama-sama mengerti kekurangan dan kelebihan kita masing-masing.
Kita melewati gerimis. Kita menikmati sapaan lembut dari langit itu. Kitapun sering dihadapkan pada hujan deras beserta angin. Namun, sering kita menerjang hujan besar itu untuk sebuah urusan yang tak bisa ditunda. Seakan-akan kita seperti mendengar seruan perang. Lalu kita akan menjawab “Sami’na wa ato’na” . Sama seperti jawaban kita ketika imam sholat memerintahkan untuk meluruskan shof. Hm…Aku rindu semangat itu. Rasanya ada yang hilang kini.
Lantai keramik hijau itupun menjadi saksi bisu kita. Lantai keramik yang bangunannya sekarang masih direnovasi. Disana dulu keningmu mungkin lebih banyak menyentuhnya daripada keningku. Lewat duhamu, sholat rowatibmu atau qiyamul lailmu. Dengannya kau mempunyai kekuatan untuk melakukan segala hal tentang kebaikan. Kau selalu bersemangat untuk peduli, memberi dan berkontribusi. Meski uang yang ada di saku celanamu tak cukup untuk sampai makan malam hari ini. Meski tugas kuliahmu masih menumpuk. Kau masih tetap saja tenang. Katamu “Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya”.
Musim belum juga berganti. Namun, aku ingin segera kembali. Kembali bersua denganmu. Mungkin dengannya aku bisa kembali semangat. Mungkin dengannya aku bisa kembali belajar. Belajar meneliti tentang apa yang sudah kulakukan hari ini. Atau seberapa besar kemanfaatan diriku bagi orang di sekitarku. Lalu aku ingin kita disapa seperti dalam surat Al Hasyr : 18
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
Sungguh indah kan sapaan itu?
thanks untuk seseorang yang telah memberi inspirasi.


aku ora mudheng bud.
hanif : pada Pin..lho????
kirain…dari judulnya….
rindu akan sapaan indah….
ternyata…memang benar yaw,…hwhehe
hanif : Sssttt jangan buka rahasia disini.
tulisane apik bud,, mantep, bisa jadi bahan pengingatan buat diriku..kekuatan idealisme dan semangat bagaikan ‘bara’, nyala-nya butuh usaha untuk terus menerus di’tiup’. idealisme dan semangat bukan barang gratis yang dibagikan begitu saja, bahkan pun saat kita sudah miliki itu, ga njur ongkang2 tanpa berusaha untuk terus memilikinya,,
semoga kita semua dengan idealisme dan semangat itu, senantiasa berusaha untuk mendengar dan mengejar ‘sapaan itu’
hanif : Makasih Can. Semoga saja kita bisa menjaganya.
Seperti halnya sebuah baterai hp yang perlu di-chass, maka seorang manusia pun akan membutuhkan yang seperti itu. Butuh di-recharge kembali agar pikiran dan semangatnya kembali fokus sehingga bisa menjalani aktivitasnya dengan sebaik-baiknya. Untuk itulah peran sahabat, suami/istri, anak-anak atau anggota keluarga lainnya yang akan selalu siap membantu kita me-recharga baterai dalam diri jika sudah mulai lemah
hanif : Mas selalu tahu saja bahwa aku sedang perlu di-chass.
Mereka yang kan kurindukan. Dalam sebuah ikatan. Dalam pertemuan yang hanya sebentar. TAPI sungguh, robithoh tetap terlantun untuk orang-orang tersayang..
hanif : Sudah lama tak baca doa itu…
mampir, ah…
hanif : Monggo2.
suka sama tulisan ini…
sapaan yang juga saya harapkan sekali.
hanif : Terima kasih.
siapakah yang memberi inspirasi sampai mampu mewujudkan satu bentuk tulisan yang juga menginspirasi seperti ini???
hanif : Dirinya sudah kuceritakan di postinganku yang berjudul “Aku Kembali Cemburu”.
Lam knal, post yg bagus.
hanif : Makasih.
Benar2 sapaan yg indah
Aku pun tersapa
hanif : Syukurlah.
wah tulisannya keren…
keliatannya orang ini “pernah” berarti sekali.
hanif : Banyak orang yang berarti bagiku. Mereka adalah sahabatku.
Ihiiiy, ada postingan baru,
Baru kubaca, huehehe.
Bud, aq sudah pendadaran.
Tpi belum sempet pamer2 bgt, soale lgi ga enak hati.
hanif : Kapan syukurannya sampai Jogja Des?
Idealisme dan keikhlasan dalam bertindak memang sesuatu yang mahal di zaman kini. Saat di masa kuliah, banyak teman mendaku idealis dan ikhlas. Namun, saat terjun ke tengah masyarakat dan bekerja, banyak yang tak tahan memegang bara panas idealisme dan keikhlasan.
Semoga sapaan indah ini mengingatkan saya juga.
hanif : Semoga mengingatkan kita semua Mas.
saya pingin belajar dari kepada “pemberi inspirasi” itu, siapakah dia ?
hanif : Sangat sulit untuk menemuinya.
Cakep tulisan nya bos…
hanif : Yang nulis sendiri gimana?
Ini tulisan cerdas. 4 bintang buat abang. Terima kasih motivasinya dan salam kenal dari saya di Banjarmasin.
hanif : Salam kenal juga.
subhanallah… an trsapa
hanif : Alhamdulillah.
Inspirasi dari siapa tuh….
hanif : Dari seseorang yang hobinya muraja’ah.
pada bae bud…. diriku juga rindu sapaan itu… kapan ya bisa menemuinya kembali???
hanif : Semoga saja secepatnya akh.
Masa2 indah dising dulu membuat selalu merindukannya. Seiring waktu kita akan memasuki suasana yang berbeda. Tapi kenapa hari ini tidak seindah hari kemarin dimana mencintaiNYA adalah suatu keindahan. Nanang’s last blog Lebih Berhati-Hati Menggunakan Facebook!
hanif : Wah jadi semakin kangen…
bersegera!
wa saari’uu, saabiquu, fas’auw. cepatlah, berlombalah, segeralah.
saya juga rasa kehilangan,, futur.. :’(
hanif : Hm…begitu ya?
senangnya punya sahabat yang selalu bersama dengan kita dalam ketaatan pada Allah … salam kenal yah mas
hanif : Salam kenal balik dari Kebumen dan Jogja.
Assalaamu’alaikum
Semoga harimu akan semakin indah dengan keindahan yang sungguh indah dan yang terindah dari segala keindahan yang ada. Mudahan kebahagiaan dan keindahan itu menjadi milikmu suatu hari nanti. Salam manis dari Sarawak, Malaysia.