Jam di HP temanku sudah menunjukkan sekitar pukul 21.30 WIB malam itu. Lampu sudah lebih dahulu berganti merah ketika kami sampai di perempatan lampu merah MM UGM. Lalu tubuh mungil itu segera mendekat bertepuk tangan sambil menyanyi lagu yang tak jelas terdengar. Menampakkan wajah mengharap “Mas sisihkan recehmu untukku”. Dan segera saja temanku merogoh saku celananya mencari uang recehan yang ada.
Senyum menyungging di wajahnya seketika ketika ia menerima uang recehan itu. Lalu seketika akupun bertanya “De ra kademen po? (De tidak kedinginan?). Wajah kecil itu cuma menggeleng pelan dan segera menjauh ke trotoar. Menunggu kendaraan yang lain berhenti di lampu merah yang sama dengan kami. Melakukan hal yang sama berulang-ulang seperti tadi. Gadis kecil berumur dua tahun itu masih mengharap belas kasihan orang sampai semalam ini. Mengumpulkan recehan-recehan entah untuk menyambung hidup dirinya sendiri atau orang lain.
Sungguh tega. Teramat tega. Jika orang tua gadis kecil itu masih hidup dan memanfaatkan keberadaannya. Memanfaatkan untuk mencari uang dengan mengharap belas kasihan orang-orang di jalan. Dengan alasan apapun aku tak bisa memaafkannya. Ia mempunyai hak hidupnya sebagai kanak-kanak. Bermain dan belajar hal-hal baru yang menyenangkan. Bukan mencari uang di jalanan. Gadis kecil seusianya seharusnya sudah tidur malam ini, berselimut hangat kasih sayang ibunya. Seperti bidadari-bidadari kecilku, Citra dan Andini, seharusnya ia juga seperti mereka, sudah mulai bisa membaca dan berhitung sekarang.
Masa kanak-kanak seharusnya menjadi masa yang menyenangkan. Bermain, berekspresi sejujur-jujurnya dengan dunia luar. Memahami hal-hal baru di dunia ini yang penuh warna secara perlahan. Menyibak keanehan demi keanehan yang ternyata ketika ia dewasa bisa dipahami bahwa semua fenomena mampu dijelaskan secara ilmiah dan rasional. Maka seharusnya masa kanak-kanak dilaluinya secara wajar. Ia semestinya berkembang layaknya bunga yang dirawat secara tak berlebihan, tetapi juga tak kurang perhatian. Kita hanya boleh mengarahkan anak-anak kita menjadi pribadi-pribadi yang cocok dengan kapasitas dan keinginan dirinya. Ia mempunyai kebebasan yang harus kita hargai dan kita mengerti.
Hanya saja, ironi hanya bisa menjadi sebuah ironi. Tak ada yang mampu mencegah semua hal yang di atas terjadi. Banyak gadis kecil yang mungkin senasib dengannya. Mengumpulkan recehan demi recehan entah untuk siapa. Jika tak mau, ia akan mendapat tekanan atau tak diberi makan. Masa kecilnya yang bahagia terkorbankan. Sungguh kasihan hidupnya. Anugerah bahwa seorang anak menjadi penyejuk jiwa bagi orang tuanya seakan tak berlaku disini karena sepertinya orang tuanya tak mengharapkan kehadirannya di dunia ini.
Ah…Semoga itu semua tak terjadi kepada anak-anak kita nanti. Tak ada pemaksaan yang mungkin menurut kita baik, tetapi tidak bagi anak kita. Seperti pemberian les privat yang atau perlindungan yang berlebihan. Semoga kita bisa mengarahkan dan mendukung anak-anak kita dengan sewajarnya. Tetap memperhatikan perkembangan dirinya dengan tetap menghargai kebebasannya untuk menyukai sesuatu yang baik bagi dirinya sehingga ia tumbuh dengan utuh. Ya dengan tetap membawa kenangan masa kecilnya yang indah ketika ia sudah dewasa.
NB untuk anakku nanti : ingatkan Ayahmu nanti akan tulisan ini jika engkau sudah lahir ya Nak!(padahal ibumu saja belum bertemu dengan Ayah sekarang he he he sudah buat pesan untukmu). Yah aku akan selalu berharap ”Tumbuhlah dengan utuh”.




Masih sangat banyak gadis-gadis kecil yang lain yang mengalami nasib serupa Bud. Aku fikir mereka memang secara sengaja “dimanfaatkan” oleh orang-orang dewasa yang tidak mempunyai hati nurani, dan anak kecil itu tidak mempunyai daya untuk menolak.
Hmm, secara ideal memang seharusnya mereka bisa bertumbuh secara utuh, melewati dan menikmati masa kecil secara natural dan penuh kebahagiaan layaknya anak-anak kecil yang lainnya. Dan siapakah yg bisa mencegah semua itu??? seharusnya kita semua harus bisa mencegah semua itu, tapi hingga saat ini belum ada perubahan yang berarti, bahkan nampaknya keberadaan mereka semakin menjamur…Semoga ALLAH selalu melindungi mereka…
hanif : Ya semoga nasib mereka segera berubah Mba.
Assalamu’alaikum,
Memang sangat memprihatinkan, melihat nasib anak kecil yang tidak bisa sepenuhnya menikmati masa kanak-kanaknya dengan baik, dan malah harus berjuang mencari uang dengan cara meminta-minta. Semoga suatu hari kelak, akan ada perubahan yang lebih baik untuk mereka. (Dewi Yana)
hanif : Wa’alaikumsalam
Kita sangat berharap semua itu bisa terjadi mba.
Permasalahan ini sekali lagi adalaha akibat ketimpangan ekonomi. Ini bagai labirin.. Seolah sulit untuk mencari jalan keluar. Padahal, dengan kesungguhan dari pemerintah, niscaya hal-hal semacam ini dapat di atasi.
Buat sahabat2 yang kurang beruntung.. semoga Allah memberikan kekuatan kepada mereka…
Salam kenal..
hanif : Salam kenal sebelumnya.
Kurasa kita (masyarakat) juga perlu berperan, tidak hanya mengandalkan pemerintah.
dahsyat
ada kesamaan antara kita di sini
aku telah membuat puisi untuk anak2 ku yg kan terlahir nanti, padahal ibunya pun aku belum tahu siapa
hehehe kita sama
hanif : Ha ha ha, ya ya ya. Kita terlalu melihat jauh ke depan kali ya Mas? Semoga impian kita bisa terwujud. Amiin.
Assalamu’alaikum
Senang membaca tulisan Budi di atas, malah membuat saya senyum dan mengingatkan beberapa bicara lalu yang masih utuh dingatan. Ternyata beruntung “si dia” yang bakal mewarnai dunia kehidupan akan datangmu Budi, beruntung sekali.. Mudahan mendapat yang terbaik, sesuai dengan pesan buat si anak yang bakal tumbuh dengan nyaman dari danau dua hati yang saling menyinta. Salam mesra selalu Budi.
hanif : Wa’alaikumsalam
Hi hi hi “si dia” nanti memang beruntung mendapatkan aku. (Narsis mode on)
sungguh ironi memang….
ada byk org diluar sana yg menginginkan anak, namun ada yg telah dikaruniani anak malah tidaj dapat bersikap dan mejganya baik2…..
kasihan juga mereka dari kecil uda didik untuk meminta-minta…
untuk calon ayah dan calon suami yg menulis ini moga segera nemu istri dan mendapatkan anak hehehe AMIN.
hanif : Terima kasih atas doanya.
sepertinya umur dua tahun masih terlalu kecil deh, mungkin umurnya sekitar 4 atau 5. memang sangat disayangkan usia anak yang penuh dengan keceriaan itu harus hilang begitu saja, mudah-mudahan kita mampu berbuat lebih banyak untuk membantu mereka.
hanif : Ya seumuran gitu lah. Semoga kita jika diberi rezeki bisa menyisihkan sebagian. Aku juga sedang belajar.
hmmm…membuat ku merenung sobat..semoga putri kecilku bisa menikmati hari-hari nya Insya Allah..terima kasih sudah mengingatkanku
-salam- ^_^
hanif : Ini sedang mengingatkan diri sendir mas.
Lha kamu ngasih uang ga bud, setelah tahu temanmu merogoh sakunya?
hanif : Ngga je pin, ga ada uang receh….*jujur
salam
ironi sekalis ya mas…mau bantu tapi kayaknya tangan kita masih sangat kecil untuk membantu. Itu tanggung jawab negara seharusnya…
sang pelembut hati
hanif : Lagi-lagi kita cuma bisa berharap.
hampir setiap hari, saya melewati simpangan pasar simpang dago selama setahun ini. Dan anak kecil itu menggumamkan entah lagu apa setiap kali lampu merah menyala, bahkan ketika dia masih menggunakan popok setahun yang lalu. usianya sekarang saya rasa sekitar 2 tahun, bicaranya pun belum jelas. kadang ada yang memberinya uang, yang segera dia serahkan pada ibu2 yang menunggunya di pinggir trotoar, yang juga menerima uang dari anak2 lain yang sedikit lebih besar. ga pernah tahu harus marah, ironis, sedih, getir atau gimana?
Saya ga akan bilang ini tanggung jawab siapa atau siapa. Tapi ini tanggung jawab mata saya karena melihatnya, meski saya tetap naif dengan belum pernah tahu harus berbuat apa.
hanif : Sama. Hanya saja berita santer yang kudengar mereka diorganisir oleh seseorang. Mengemis menjadi sebuah pekerjaan yang menghasilkan banyak uang dalam waktu sehari. Makanya kadang jadi merasa gimana gitu ketika anak2 kecil disewa untuk menghasilkan uang.
Di Jakarta walaupun sudah ada peraturan daerah yang melarang keras pengamen, tukang asongan untuk berkeliaran serta larangan untuk memberikan uang atau membeli dari para pengguna jalan tapi tetap saja akan banyak kita jumpai mereka.
Persoalan pengemis bukanlah persoalan yang rumit. Seandainya tidak ada ketimpangan ekonomi daerah dan kota, seandainya taraf hidup masyarakat kita baik dan merata tentu mereka-mereka akan merasa ‘hina’ untuk menjadi pengemis. Namun dalam penerapannya justru persoalan yang tidak rumit ini akan terkait dengan banyak faktor dan itulah yang membuatnya menjadi rumit sekali
.
hanif : Mereka menjadikan mengemis sebagai pekerjaan. Fisik mereka masih kuat, dan seringnya memanfaatkan anak2 untuk menarik simpati. Padahal mungkin anak itu bukan anaknya alias nyewa. Makanya aku kasihan akan nasib anak2 yang seperti itu. Mereka dimanfaatkan tetapi tak sadar. Kasihan kan ?
mungkin sudah waktunya dirimu mengaplikasikan ilmu yg kau terima di bangku kuliah…
*sebenarny berat menyebut kata2 yg berhubungan dgn ‘kuliah’
hanif : Semoga saja bisa, masih bingung nih…habis agak lupa materi2 yang kudapat di bangku kuliah, perlu refres lagi sedikit he he he
rasa itu ada ya? gak eksis tapi nyata punya esensi di dalann logika.
hanif : Ya begitulah.
Anak jalanan memang merupakan ironi. Orang tua merupakan pihak yang paling bertanggung jawab, di samping pihak-pihak lain. Meski dihimpit kesimpinan, masih banyak orang tua yang tidak mengorbankan anak mereka untuk jadi anak jalanan. Meski anaknya terlahir di luar nikah, masih ada orang tua yang tak rela mencampakkan anak mereka yang tak berdosa di jalanan.
hanif : Semoga kita tak menjadi orang tua yang mengorbankan anak-anak kita karena keegoisan kita ya Mas.
Lagi-lagi negara tidak begitu sensitif. sebenarnya ini bisa di atasi dengan cepat, jika negera berfungsi dengan baik. Desa adalah miniatur negara. desa memungkinkan lebih dekat, lebih paham akan kondisi warganya. tapi alokasi dana desa masih habis hanya untuk pembangunan fisik saja, jalan dll.
salam.
hanif : Mungkin para pemimpin kita sibuk dengan kenaikan gajinya kali Mas.
duh hanif, terharu bundo.. semoga kelak hanif menjadi seorang ayah yang selalu mengalirkan cahayaNYA untuk keluarga, amiin.
hanif : Jazakillah atas doanya Bundo…