Re…*
Hari ini aku pulang dan pagi ini aku berjumpa kembali denganmu. Kulihat, sepertinya matahari seakan terbit dari tenggara lagi ya?:D Seperti dulu. Ia masih juga dengan setianya menyapu bersih dinginnya pagi dengan hangat sinarnya. Hmm…Masih juga ada kicauan burung gereja menyela disetiap pembicaraan kita. Mengalihkan pandangan kita sejenak kepada hijaunya hamparan sawah yang membentang di depan mata. Menyeruakan kembali kenangan. Kenangan sewaktu tubuh-tubuh kecil itu kotor berlumuran lumpur atau gatal karena bermain gubuk jerami. Lucu sekaligus menyenangkan.
Re…*
Setiap perjalanan punya batu kerikil dan angin yang melengkapinya. Itu kalimat spesialmu untukku. Kau selalu saja mengingatkanku akan jalan yang lurus itu maka nama hanif-pun kau sematkan kepadaku. Sampai aku tahu, ada banyak kerikil yang akan lebih banyak kutemui daripada angin yang menyegarkan. Itu juga yang membuatku berlatih bersabar karena sampai sekarang aku tak bisa memprediksi kedatangannya. Kaupun kembali bertanya…”Kau sedang berkhayal terbang seperti layang-layang-kah?. Bebas tanpa beban meliuk-liuk menari di udara. Ya jawabku dan jikapun nanti angin membuat aku meninggi dan lupa daratan, pintaku kepadamu, “Ingatkan aku untuk turun dan melihat darimana asalku sejenak ya!”.
Re…*
Di luar sana, mungkin seringkali orang-orang melihatku begitu sempurna. Untunglah rumah telah mengingatkanku kembali akan siapa diriku sebenarnya. Rumah telah mengembalikann diriku menjadi kembali jujur apa adanya. Bagaimana aku belajar, bagaimana aku tumbuh menjadi besar dan bagaimana seharusnya aku peduli. Hanya saja semakin bertambahnya usia kenapa aku merasa semakin asing dengan rumahku? Aneh. Sepi. Terasa sedikit sekali nilai interaksi. Apa semua ini terjadi karena kurangnya komunikasi sehingga aku merasa tak nyata berada disini? Atau aku yang terlalu menutup diri? Mungkinkah keterasingan ini sebuah harga mahal yang harus kubayar atas setiap kesalahan yang terjadi selama aku di rumah? Ah…semoga semua rasa ini salah karena aku yakin wajah-wajah mereka selalu berseri kepadaku. Aku yakin wajah-wajah itu selalu tulus merindukanku.

Re…*
Aku tak bisa berlama-lama disini. Berbicara denganmu. Aku harus balik ke Jogja. Ada amanah-amanah yang harus kutuntaskan. Aku berharap tak lama disana. Aku selalu rindu ingin pulang. Pulang ke rumahku yang dulu. Bertemu kembali dengan keluargaku dan denganmu. Tentu saja dengan membawa sisi diriku yang tertinggal di kota Jogja agar kasih sayang orang-orang rumah bisa kubalas, agar ada rasa nyaman yang kami rasakan bersama. Semoga aku kembali menemukan semangat hidupku dari sana. Ya ..dari rumah. Aku juga berharap semua sahabatku di dunia nyata maupun maya merasakan kerinduan dan kehangatan setiap saat di rumah mereka masing-masing.
Re…* = Rel Kereta




rumah memang selalu memberikan sejuta kerinduan..tapi kita tetap harus selalu melangkah mengejar semua impian kita…hingga suatu saat perjalanan panjang kita akan membawa kita menemukan jalan untuk kembali pulang ke tempat yg kita sebut rumah..
*terinspirasi dari wisna..hehehehe*
hanif : Ya memang begitu adanya Wink, di luar rumah ada pertarungan-pertarungan untuk menyambung hidup kita dan kepulangan kita ke rumah adalah untuk mengisi energi.
Selalu ada kehangatan di rumah yang dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang sehingga setiap kali musim lebaran pastinya tidak akan afdhol dengan mudik ke kampung halaman walaupun itu dengan susah payah dilakukan.
hanif : Dan semua itu tak bisa digantikan hanya dengan telepon, meski mungkin dengan itu kita bisa tahu keadaan rumah baik-baik saja.
sejauh apapun kita pergi selalu ada hati yang ingin kembali kepada rumah kita. hidup memang selalu merindui yang indah sobat. selamat siang
hanif : Selamat siang. Seperti burung ya?
haaaa… ada rel kereta disini…
jadi pengen pulang
salam kenal y mas
hanif : Semoga kamu bisa cepat pulang.
jangan Re donk sobat, Reka aja
Met pulkamp ya, saya juga mo mudik ah
hanif : Met mudi juga Mas.
#kawan lama 95
jadi ingat pribahasa Bali: sejauh-jauh bangau terbang akhirnya pulang juga…. he he he… (Bali dari mane ye)
#April
rel
dalam kamus dekonstruksi kata yang disusun oleh Umar Syahafif
Re = mengulang
El = panggilan
mengulang panggilan. seperti mengulang yang pernah disadari atau dipahami sebelumnya. sebuah kesaksian agung yang pernah disampaikan ketika masih didalam alam arwah dan akan di tagih janji persaksian tersebut, maka rel yang sejajar menandakan akan adanya jalan yang terus selaras dengan janji persaksian tersebut. mengulang kembali panggilan dan janji kesaksian. sampai stasiun terakhir. stasiun titik nol yang abadi. walaupun tentunya titik nol disini adalah titik permulaan yang lain pada alam yang lain….
#achoey
oh beruntung sekali punya teman baik..didunia nyata… he he
# Hanif-nyastra
Hm… bahasa yang cukup ‘boros’ tapi menarik. he he he… sante lo mas….
“rumah menjadi halte yang seolah mulai sepi dari ingatan. dan semakin lama mengenang masa silam semakin sepi rasanya masa kini. maka mengapa tidak menjadikan halte itu menjadi ramai?” seorang teman bernama Braminto menceritakan hidupnya dulu pada awal pertaubatan. maka sang mantan preman Malioboro itupun memulai dengan mencium tangan kedua orang tua, lalu mencium pipi ketika pulang kerumah, mendengarkan, dan mulai menemui bahwa saat ini adalah saat yang tepat untuk meramaikan kembali rumah dengan cinta kasih….wah jadi pingin pulang ke rumah… wkk
sobat. afwan kalo terlalu menyita space…. wkk
hanif : Wah komentar sahabat-sahabatku yang lain di komentar balik oleh njenengan ya…hi hi hi.
kangen sama Re, berapa kilo panjangnya bang?
hanif : Wah ga pernah ngukur.
Bingung, mau komen apaan. Salam
kenal saja dah.
hanif : Jongkok dulu, tenangkan diri. Ga usah grogi.
Assalaamu’alaikum..
Tulisan Budi mendatangkan kerinduan buat keluarga di kampung yang sering ditinggalkan saat mula mengenal erti kejayaan dalam hidup. Sejak beranjak dari sekolah rendah (dasar) hingga ke menara gading….hidup dirumah boleh dibilang dengan jari (menunjukkan jarang berada di kampung). Sehingga sekarang..rumah di kampung sering mendatangkan kerinduan apatah lagi mengingatkan meriahnya suasana bermain dengan teman-teman dan saudara. maaf Budi lama juga tidak berkunjung. Harap diingatkan selalu ya.
hanif : Wa’alaikumsalam
Mba juga jauh dari rumah sepertinya ya?
home sweet home..
rumah… jadi kangen rumah… *sebentar lagi,mungkin..*
btw, kenapa sepi?
hanif : Karena tinggal bapak dan ibuku yang di rumah. 5 Kakakku dah menikah dan punya anak. Mereka tinggal berjauhan.
Kirain lagi manggil-manggil aku. Re.. Re.. Mirip Ren.. Ren.. Hehehe..
Duh, Budi bikin aku kangen rumah aja. Rumahku, tunggu tanggal 18 besok!
hanif : Liburan ya Ren?
@Eneng April
Wahh…. jumpa lagi kita hehehe….
hanif : Ga paham apa yang kau katakan, maaf!
terus…saatmu kapan Bud……..?
aq harus mendukungmu yaw…!!!
hanif : Kayaknya kamu salah menulis komentar ya Jul? Itu sepertinya komentar untuk judul tulisanku yang “Begitu Indah”.
*orang sinting terharu*…
jadi teringat keluarga yang jauh dirumah, senyuman hangat yang menghiasi keindahan kampung tercinta *orang sinting aneh deh kalo ngomong gini*ha ha haha
rel kereta, tu kan incaran gw. lumayan buat di kilo kekekekek
hanif : Tapi yang sering hilang kok kabel di tiang2 itu? Bukan relnya?
rumah, tempat masa kecil yang membuat kita merasa nyaman karena ndak perlu memake topeng apapun. senyaman masa kecil saya dulu.
tapi waktu berlalu, sekarang rumah yang mana yang membuat saya nyaman? rumah sendiri atau rumah ortu? kayaknya masih lebih nyaman bergelung di rumah ortu
hanif : Kita bisa sedikit bermanja disana soalnya.