Bab IV dan V skripsiku sudah selesai kubuat dan sekarang berada di meja dosen pembimbing beserta bab I sampai bab III-nya. Butuh satu minggu bagi dosen pembimbingku untuk mengoreksi semua hasil jerih payahku selama satu minggu kemarin. Sampai-sampai dua buku tebal yang kupinjam dari “Bos” tak sempat kubaca. Buku Shaidul Kathir karya Imam Ibnu Al Jauziy baru kubaca setengahnya sedang Imperium III : Zaman Kebangkitan Besar dan 1.000 Tahun Keunggulan Manusia karya Eko Laksono baru kubaca sampai halaman 25. Padahal sudah sebulan lebih aku meminjam salah satu buku itu darinya.
Dalam masa penantian, menunggu konsultasi hari senin mendatang kusempatkan memilih membaca buku Imperium III : Zaman Kebangkitan Besar dan 1.000 Tahun Keunggulan Manusia. Lagi-lagi aku seakan terhanyut ke masa lalu karena terbawa kata-kata sang penulis seperti halnya saat kubaca “Jejak-Jejak Fremasonry di Indonesia” atau “Makelar Dongeng Holocoust”. Dua buku tadi berbicara tentang sejarah bagaimana kaum Zionis merancang strategi dan rencana yang sangat rapi dalam menguasai dunia dan entah sejak kapan tanpa sadar aku menyukai buku tentang sejarah. Padahal sewaktu SMA aku tak terlalu suka pelajaran sejarah karena harus menghafal tahun-tahun penting yang begitu banyak hingga pada akhirnya di kelas III aku memilih penjurusan IPA. (Kok sekarang kuliahnya malah milih Manajemen Keuangan? Banting setir dua kali nih? He he he).
Imperium III dengan desain cover tebal hitam di luarnya membuatku penasaran. Di dalam buku ini selain diceritakan tentang perguliran peradaban-peradaban di dunia juga mengungkap rahasia keunggulan orang-orang terbesar dalam sejarah manusia seperti Nabi Muhammad saw, Napoleon, Franklin D. Roosevelt, Leonardo da Vinci, Issac Newton, Albert Einstein, sampai Rockefeller dan Bill Gates. Eko Laksono mengawali buku ini dengan peradaban unggul Islam, maka pahamlah aku sekarang akan larik puisi di lembar terakhir buku “Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim” karya Salim A. Fillah yang mengungkapkan kejayaan Islam, yang cuplikannya berbunyi seperti ini :
Maka gemuruhlah Makkah dan Madinah oleh lantunan takbir dan talbiyah,
ketika sunyi membungkam Roma dan Konstatinopel dalam kekakuan dogma.
Maka hangatlah diskusi-diskusi di Basrah dan Kufah,
saat Genoa dan Venesia dihantui inkuisisi.
Maka bersinarlah perpustakaan Kairo,
ketika para dukun komat-kamit di kegelapan Lissabon.
Maka gemerlaplah Baghdad oleh lantunan ayat di semarak malam,
ketika Paris gulita sejak senja dalam takhayul dan mitos.
Maka gemericiklah air mancur Damaskus dalam kesucian thaharah,
ketika bangsawan di London menganggap mandi adalah aktivitas berbahaya.
Maka berdengunglah ayat-ayat Allah menjelang buka puasa dengan sajian kurma, yogurt, serta buah segar di balkon-balkon pualam Cordoba dan Granada,
ketika saat Kathedral di Wina dan Bern menutup makan malam dengan pudding darah babi.
Ada banyak tokoh genius Islam yang teryata menjadi tokoh rujukan dunia. Ibn Sina, oleh banyak orang termasuk para ahli dari barat, dianggap sebagai Bapak Ilmu Kedokteran Modern” Buku kedokterannya, “Al Qanun Al Tibb” (The Canon of Medicine), dibawa ke Eropa dan kemudian dipakai selama 700 tahun di universitas-universitas disana pada zaman pertengahan. Ia dikenal dengan nama Avicena di Eropa. Ibn Al Haitham yang dikenal sebagai “Bapak Ilmu Optik”, yang membuktikan bahwa benda yang memantulkan cahaya yang lalu ditangkap oleh mata, bukan sebaliknya. Ada Al-Khawarizmi yang membuat sistem angka 0-9 dan buku “Kitab Al-Jabr wa Al-Muqabilah (buku tentang Integrasi dan Persamaan) yang berisi pengembangannya pada rumus-rumus persamaan linier dan kuadrat, juga kalkulasi integral. Dari buku inilah muncul kata yang kemudian digunakan dalam bahasa Inggris, Algebra. (Ipin, Winky, dan Wijna tahu hal ini tidak ya?). Dan masih banyak tokoh lain yang menginspirasi dunia yang tak bisa kusebutkan semuanya disini.
Begitulah peradaban Islam dahulu ketika pada zaman itu Islam dipimpin oleh pemimpin yang cerdas dan bijaksana, ketika ilmu pengetahuan menjadi hal yang paling diutamakan untuk dicari. Namun, seringkali nafsu membuat terlena. Saat kemegahan dan kejayaan dipunya, seringkali orang menjadi lupa. Nafsu kekuasaan, harta dan wanita membuat nilai-nilai yang diajarkan Rosululloh saw yang harusnya dijaga lalu dilonggarkan. Tidak makan waktu lama hingga mereka akhirnya mabuk sehingga kecerdasaan dan kebijaksanaan hilang. Nafsu terus bertumbuh dan keinginan mereka terhadap kesenangan dunia terus bertambah. Akhirnya semuanya tanpa ada yang menyadari menjadi lepas kendali. Begitulah fase keruntuhan peradaban Islam. Maka kini keterbelakangan intelektual dan kerusakaan moral menjadi warna utama dari kebanyakan bangsa Islam. Tragis.
Setiap keruntuhan sebuah peradaban di satu sisi dunia akan digantikan dengan bangkitnya peradaban baru di sisi dunia lain. Setelah peradaban Islam mengalami kemunduran dahsyat, Eropa sebaliknya malah mulai bergerak setelah seribu tahun lamanya dalam “kegelapan”. Disusul Amerika lalu Jepang dan begitulah seterusnya. Dan rahasia atau persamaan dari semua peradaban itu bisa berjaya adalah seberapa besar para pemimpinnya menghargai dan mengutamakan ilmu untuk bangsanya karena ilmu adalah cahaya yang akan memberi petunjuk dalam kegelapan. Inilah rangkuman pesan singkat dari buku ini. Jika sudah tahu begitu, mari sama-sama banyak membaca mulai sekarang karena mungkin saja kita nanti menjadi pemimpin di masa mendatang.
Jika kita sudah membudayakan diri untuk membaca, saat kita menjadi pemimpin nanti (jadi RT, Lurah, Camat, Bupati de el el) semoga kita bisa menggerakkan masyarakat luas untuk gemar membaca sehingga peradaban baru perlahan-lahan akan bisa kita cipta dan kegelapan (kemiskinan, kelaparan, ketakutan) akan sirna. (Terdengar oleh para capres dan cawapres kita ga ya harapan ini???)




buku yang dahsyat
dengan membaca kita banyak tahu
hanif : Mas juga harus baca lain kali ya.
kalau aku punya banyak uang
aku akan beli buku
kalau aku cukup punya uang
aku akan beli buku
kalau uangku sisa
aku akan beli makan
(filosof yunani)
“kalau tidak membaca aku akan bertambah sakit’ ibn katsir
“aku lebih tahan lapar dari pada kegilaanku pada buku” Syaik Ant
hanif : Wah ternyata ada orang-orang seperti itu y? Baru tahu.
assalamualikumwrwb…
sapa aj..
hemm..ngasih draft skripsi pake sopftcopy aja ya jgn pke hardcpy..
hanif : Kok jadi bahas skripsi disini???
Waaaaah semoga cepaaaat lulus yaaaa
Salam Sayang
hanif : Hi hi hi kayaknya bukan itu inti tulisanku.
@Umar. Koreksi; itu perkataan Desiderius Erasmus, filsuf Renaissans dari Belanda.
hanif : Oiya ?? Sering baca karyanya y mba?
Ada pendapat yang mengatakan bahwa umat Islam selama beberapa abad terakhir ini terlalu terpaku dengan kegemilangan di masa lalu tanpa berusaha untuk merubah apa yang terjadi dengan sekarang.
Masa lalu adalah cermin bagi kita di zaman sekarang dan bukan lagu yang selalu menina-bobokan kita hingga membuat kita terbuai.
Ambillah pelajaran dari sejarah. Ambil sisi positif dan perbaiki sisi negatifnya.
hanif : Bangsa yang bisa belajar dari sejarah pasti akan sukses.
mari membaca dan mari mengumpulkan buku untuk belajar dan belajar menjadi lebih baik….semoga segera lulus!!!
hanif : Makasih mas.
*ngelirik ke atas*.. tumben nyambung.. dah sembuh yaa mas..
Salam Sayang
hanif : Ha ha ha
dengan ngblog kita makin ilmu kita makin bertambah..
hanif : Ya
ayahku juga lagi baca buku itu, saya cuma mengintipnya ajah…
hanif : Kamu baiknya juga ikut baca, bagus lho.
saya setuju sekali mas … pokok dasar dari semua hal yang ada adalah ilmu pengetahuan … apa saja haruslah diketahui dan dipahami berdasarkan ilmu pengetahuan … karena itulah Islam dapat berkembang dan ditegakkan … bukan dengan cara-cara kekerasan dan kesombongan …
Islam adalah ilmu pengetahuan yang harus dipahami dan dipelajari, bukan hanya sekedar cap stempel atau budaya yang diturunkan …
dalam kehidupan sehari-hari kita di negeri yang elok dan kaya akan beragam budaya dan alamnya ini, kita sudah menjauhi kepada hal pokok tersebut, ilmu pengetahuan … dunia pendidikan kita amburadul … banyak orang tidak memiliki kesempatan untuk belajar … sama banyaknya dengan orang lain yang putus asa karena selalu dibodohi oleh kesombongan …
maka, pemerintah haruslah berjibaku untuk mengutamakan bidang pendidikan ini agar bangsa kita kembali jaya dan melahirkan banyak pemikir-pemikir ulung … bukan seperti sekarang yang terkubur oleh para penipu-penipu ulung …
hanif : Ya semoga pemerintah segera sadar dan masyarakat juga bisa tersadar dan tersejahterakan dengan itu.
Assalaamu’alaikum Budi…
Maaf, sudah lama tidak berkunjung. Sibuk dengan tugasan dan usaha juga untuk menulis kali ini agar tidak ketinggalan berkongsi ilmu dan idea yang baik dari Budi. Semoga berjaya dan selamat semuanya.
hanif : Wa’alaikumsalam
Amiiin untuk doanya.
salam ukhuwwah..
hanif : Salam ukhuwah too.
Sepertinya bukunya bagus
Oya, semoga skripsinya cepet selesai. Semangat ya..
hanif : Ho oh.:D
maaf saya tidak setuju dengan statement:
“pokok dasar dari semua hal yang ada adalah ilmu pengetahuan … ”
lalu dimana letak Allah? apakah menisbikan ALlah dengan Ilmu_Nya? apakah mengatakan bahwa ALlah adalah Ilmu? apakah mengatakan juga bahwa seluruh semesta ini diciptakan dan dilandaskan oleh Ilmu? bukan kehendak Allah yang dituliskan dengan Lauhul Manfush? ah… maaf sekali saya kurang (Tidak) setuju dengan statemen ini….
he he he…
Sobat
hanif : Oiya-iya, aku ga terlalu teliti baca komentarnya ya.
Suka sejarah ya?
Mudah-mudahan suka juga dengan artikel saya tentang nabi Ibrahim.
http://fietria.wordpress.com/2009/06/29/keturunan-nabi-ibrahim-yang-hilang/
hanif : Mmm…sedikit sih, insyaAllah kalau nanti ada waktu aku akan baca.
gak perlu jauh-jauh sampe ke presiden mas, sampeyan hobi baca, tularkan ke satu dua teman, trus satu dua teman itu menularkan lagi ke satu dua teman lainnya, lama-lama efeknya akan dahsyat juga kok mas.
sayang banyak dari kita yang terkagum-kagum sama masa lalu tanpa ada usaha untuk bisa merebut kejayaan yang hilang itu.
hanif : Hi hi hi sudah kukira ada yang akan komentar begitu, emang sih Mas…aku terlalu memaksakan ya? Mungkin karena terpengaruh pilpres.
belum baca
hanif : Baca tulisanku atau buku itu?
aku datang dan ikut membaca blog ini
hanif : Terima kasih.
yap. siap membaca, pak!