Lagi-lagi kamu mengatakan bahwa aku sedang berpuisi, padahal aku sedang menyuarakan isi hati. Tepatnya menulis dengan hati. Tentang berbagai hal sederhana yang kurasa atau tentang masa lalu yang memercik hasrat untuk bernostalgia. Berharap dengan semua itu bisa memberikan makna untuk orang yang membacanya. Maafkan aku….jika rangkaian kalimatku sedikit membingungkanmu karena bahasaku yang tak selugu dahulu. Kamu tahu sendiri kan? lisanku tak pandai berkata-kata sehingga aku harus berbicara lewat goresan pena. Hanya dengan ini aku bisa memahami semua warna gejolak kehidupan yang tercipta. Hanya dengan ini aku bisa sedikit mengacuhkan luka. Meski mungkin bagimu seakan hambar tanpa cita rasa. Tak apalah, aku menghargai dan mencoba tersanjung dengan kujujuranmu.
Kita tak pernah tahu apa yang dikandung siang dan malam. Hanya Allah yang tahu secara pasti apa yang akan dilahirkannya. Ya…banyak misteri kehidupan yang masih belum aku dan kamu mengerti. Apalagi seringkali takdir tak mau berkompromi, maka akan kamu dapati aku seakan hanya berdiam. Tak juga bergerak menuju perubahan. Malu benar aku untuk mengungkapkan bahwa sebenarnya aku sedang berkelana dalam kebingungan. Mencari jawaban atas setiap pertanyaan. Seperti mencari sinar bintang di kutub selatan. Sendiri dalam dingin. Seperti yang biasa kulakukan.
Aku tahu langkahku telah tertinggal dan kamu menyuruhku untuk segera berlari dan mengejar. Hanya saja aku merasa kamu seakan lebih sering mengejekku daripada mendukungku. Tanpa kata, hanya bahasa tubuhmu yang bicara. Ah…apakah ini salah satu bentuk kepedulianmu terhadapku? Tak bisakah engkau merubah caranya sehingga kepedulianmu bagai cahaya menghangatkan dan mendorongku. Namun, jika apa yang kurasakan ini salah menurutmu, maka maafkan lagi atas kesalahan persepsiku.
Ada auramu yang terus saja membuatku terpesona. Ada juga sisi terbaikmu yang ingin kudapatkan. Tenang saja, aku memang akan mengambilnya darimu, tetapi engkau takkan pernah kehilangan sisi terbaik itu. Semua itu kulakukan agar aku bisa kembali berjalan sejajar denganmu. Aku takkan kalah darimu. Jika kamu bisa sebaik itu maka kenapa aku tidak bisa? Jika kamu bisa sesopan itu kenapa aku tidak bisa? Dan jika kamu bisa setegar itu menghadapi tuntutan-tuntutan kerasnya garis kehidupan, kenapa aku tidak bisa? Aku kan sama sepertimu? Sama-sama manusia yang mempunyai akal, hati dan pikiran.
Aku tak mau lagi merasakan ada jauhnya perbedaan denganmu. Filosofi lima jari mengajarkanku, setiap orang mempunyai tingkat pemahaman dan perkembangan yang berbeda dalam menyerap dan memahami sesuatu. Itulah yang membuatku kembali bergairah dan tertantang. Jika aku sekarang sepanjang jempol maka aku akan berusaha terus menjadi seperti sepanjang jari tengah, dimana saat ini engkau berada. Dan kuharap persaingan ini takkan pernah berhenti. Aku menantangmu dalam bisikan hati. Tunggulah saat nanti kita kembali sama-sama berdiri.




weleh bud..kok malah tantang2an..
hanif : Wah kamu ga berani ya Wink? Hm..sudah kuduga, he he he
iya nih, aku baca ini kok jadi takut ya?
tapi setidaknya orang yang membuatnya begini sepertinya berhasil memecut semangatmu dalam menyelesaikan skripsimu, bud.
hanif : Iya tapi bukan kamu Pin..kamu bagian awalnya saja ha ha ha.
maaf ya kalo jujur… he he he : D
hmm… untuk di sebut sebagai kriteria sebuah bangunan puisi sebenarnya tulisan antm belum memenuhi. memang ada nada-nada puitis di dalamnya, namun itu belum cukup untuk disebut sebagai sebuah corak puisi. sastra adalah salah satu metode untuk mengungkapkan sesuatu yang dilandaskan pada pemikiran, perasaan, nilai-nilai konkret, serta solusi yang ditawarkan. bentuknya memang berbeda-beda, namun intinya seperti itu. kalau ada satu bagian yang hilang, maka tak dapat dikatakan sebagai satu bangunan puisi. dan puisi itu terlalu kompleks untuk di katakan. baiklah, kalau saya boleh mengomentari, maka tulisan antm lebih mengarah pada satu ranah dimana ini bisa dinamakan sebagai satu bentuk prosa sederhana, tapi bukan puisi. sekali lagi maaf, bukan puisi. jadi antm berhak untuk menyelamati diri antum karena tahu bahwa ini bukan puisi. lantas untuk mencurahkan kata hati memang menyenangkan dengan menggunakan bahasa yang anostik, alias hanya diri kita dan orang-orang yang memahami sosok pemikiran kita yang memahami. saya paling menyukai gaya-gaya seperti ini. seperti gaya penulisan putu wijaya atau seorang moeftisani. namun, betapapun… saya mengamati dalam diri antum ada semacam kegundahan mengenai penilaian orang lain. dan saya memang tidak memiliki hak untuk mengatakan ini, tapi kalau boleh berkata: bahwa antm bisa lebih baik dari orang yang antum ingin saingi…. itu saja,….. : D…. sobat
hanif : Maaf akh jangan tersinggung, bukan antum kok (jangan Ge er ya…he he he). Kata ustad celakalah orang yang berbangga dengan dirinya, merasalah bahwa kita masih banyak kekurangan.
Kebetulan dan beruntung aku dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang baik. Ada yang sopan dan suka menolong, ada yang pintar bernegosiasi sekaligus mempunyai kelembutan hati, ada yang murah senyum dan pintar bahasa arab, ada yang pendiam tapi cekatan dalam amanah dan hafal beberapa juz Al Qur’an, dan mereka semua seringkali tegar dan teguh menjalankan dan memenuhi panggilan amanah yang diberikan. Aku ingin segala kebaikan yang ada pada diri mereka ada padaku. Serakah ya?
woho… dasar umar sok tahu… wkk… santai man….!!!
Assalamu’alaikum…. >_<
Lama gak mampir… ^^ makin asik nie tulisannya…
oke, aku terima tantanganmu *hayah!*
cut! cut! cut!
*berasa main pilemm…*
hanif : Ok!
Eh Nis kru filmnya kan dah pada pulang semua..kamu syuting dimana?
dahsyat
caramu berfilosofi sungguh indah
aku yakin tak ada aura negatif disana
yg ada adalah semangat perbaikan
betul kan sahabat
hanif : Betul Mas.
aku lebih suka saling bekerja sama daripada tantang2an…
tapi aku bisa menangkap apa yg mo kau sampaikan kok bud..semangat ya!
mari kita berjalan berjajar sebagai sahabat..jika kau tertinggal dariku maka aku akan mengulurkan tanganku untuk membantumu dan aku yakin kau akan melakukan tindakan yg sama jika aku tertinggal di belakangmu..
hanif : So Sweet …(jadi terharu nih…:”>)
kau bijak sekali, winky.
hanif : Iya..dapat wangsit darimana ya dia?
teruslah berkarya dengan cara dan cirimu he2
hanif : Ya semuanya nanti berartikulasi menjadi diriku.
Hm… serakah pada kebaikan. senantiasa baik adanya. Seperti salah satu syarat dari cara menuntut ilmu dan melipatgandakan tarbiyah keislaman seseorang adalah dengan: memiiki kesungguhan, modal waktu, ambisi (nah ini antum punya…wkk), dan persaingan. wohoho antm dah punya dan tinggal
istiqomah….
dan iqomah….
sobat…
hanif : Wah kayaknya belum semuanya bisa teroptimalkan, hm….disampingku ada yang tersinggung sepertinya ketika kata “istiqomah” disebut, he he he (aduuhhh dicubit).
timb.
lha, tiap jari kan punya fungsi sendiri-sendiri mas, kenapa harus merasa saingan?
hanif : Kayaknya kalau makan jari tangan kerjanya sama-sama deh mas stein he he he, itu yang kuartikan sama-sama berdiri (mengembang amanah).
Menyerap ilmu yang bermanfaat dari banyak orang dan berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan tentu adalah hal yang sangat baik. Dan itu adalah salah satu hikmah kita diberikan akal sehingga kita dapat belajar dari orang lain.
Seperti kata petuah:
Hidup kita tidak akan cukup lama untuk mempelajari semua ilmu yang ada, tapi belajarlah dari pengalaman hidup diri kita dan orang lain.
hanif : Salut untuk komentarnya, dalam banget.
setiap jari itu memiliki tugas dan karakteristik masing2, bud. Asal jangan jadi jari kelingking aja bud, yang seringkali tugasnya hanya ngurek2 upil aja.
hanif : Jika tak punya jari kelingking, kamu mana mungkin bisa ngurek2 upil seperti yang sering kau lakukan Pin.
sekali baca, saya kok ga bisa langsung nangkep maknanya ya.. mungkin karena ilmu filosofi berbeda dengan eksakta yang langsung to the point.. hehhe..
btw.. secara umum..saya paham ..bahwa pada dasarnya..kebahagian, kepuasan seseorang akan hidup yang dijalaninya tergantung bagaimana ia sendiri memaknai hidup yang dilaluinya.. pada batas mana dia bersyukur..pada batas mana dia merasa bahagia..
gitu kali yaa.. thks for sharing..
hanif: Inti filosofi itu adalah kadang membandingkan diri kita dengan orang lain diperlukan untuk memacu semangat kita menjadi lebih baik dan lebih baik. Fastabikul khoirot.
THANKS A LOT
I BELIEVE YOU CAN SUCCES
hanif : Thanks