
Malam-malam ini kembali coba kupecah ketika bulan purnama tak lagi bisa mengobati gundah. Roda sepedakupun berputar membelah jalan. Jalan yang setiap hari kulalui, jalan disamping Selokan Mataram yang berhias rumput ilalang. Kucoba kembali mencari bahagia di setiap nafas yang kuhela. Tak mau terus larut dalam rasa kekeringan yang nyata. Namun, melakukan itu semua ternyata tak semudah mengucap kata, rasa kering itu rasanya semakin hebat menggerogoti jiwa.
Ah seandainya ada Andini atau Citra Anindia Belasari mungkin rasa kering itu sedikit bisa terkurangi. Celoteh mereka mungkin bisa mengusir gersangnya hati untuk sesaat dengan mengingatkanku kembali untuk jujur kepada diri sendiri. Senyum polos dan tatapan mata mereka yang bening seringkali menyejukkan bagaikan embun di pagi hari. Akupun merasa bebas mengekspresikan diriku ketika bersama mereka. Hanya saja itu tak mungkin terjadi saat ini karena mereka sedang berada jauh di barat sana.
Sejenak kumerentas pikiranku dari aktivitas dunia. Mengingat. Lama tak kujanjikan jiwaku yang berat di pagi hari dengan sinar dhuha-Nya. Lama aku tak berada lima waktu dalam shof yang harusnya lurus kujaga. Melahirkan kombinasi unik yang memainkan nuansa antara muda dan tua. Tak ada batas ketika bahu-bahu bersentuhan, atau ketika imam memulai sholat dengan takbiratul ihram. Mentautkan dan mengeluhkan segala keletihan pergumulan fisik dunia dengan Sang Maha Pencipta, Allah swt. Mungkin substansi kebutuhanku menyembah telah berubah. Tak sebutuh dahulu. Kenapa ya? Seakan ada yang terasa hilang.
Untunglah aku tiba-tiba ingat ketika aku bertanya kepada sahabatku kira-kira 3 tahun lalu. “Jiwaku benar-benar terasa kering, apa yang sebaiknya kulakukan?”tanyaku kepadanya. Dia pun menjawab ….Alaa bi dzikri al-laahi tathmainnu al-quluubu “Ingatlah hanya dengan dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram” (Q.S. Ar Rad: 28). Begitulah nasihatnya yang sederhana tapi mengena. Kesedihan dan kebahagiaan akan terus bergulir dalam hari-hari kita dan hanya dengan mengingat Allah-lah semua akan bermakna.
Ya, Allah seringkali memberi yang kita butuhkan bukan apa yang kita inginkan sehingga setiap masalah yang menimpa kita mungkin menjadi bagian kebutuhan diri kita untuk terus berkembang. Apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah dan apa yang menurut kita buruk belum tentu buruk menurut Allah. Itu yang coba kuperbaharui dan kupercayai kembali. Doakan semoga bisa ya!




kalo bener-bener kering coba malem-malem bangun, wudhu, trus coba berdialog sama Gusti Allah.
hanif : Saran yang bagus, nanti kucoba Mas.
selalu dan kontinyu …
tenggelam dalam kyusuk di hadapan Allah …
saya selalu mengingat hal itu …
tiada tempat lain untuk mengadu dan bercerita …
dan semoga dengan limpahan kasih sayangNya akan selalu menyertai langkah kita … menentramkan hati kita …
sadar bahwa semua ini adalah milikNya …
hanif : Khusyuk…berat juga ya, doakan semoga bisa.
@Mas stein
sepatu mas: sepakat dan setuju mas!
@Nomercy
hm… semoga diperlancar jalannya dan dipermudah mempertahankan keistiqomahan bersama bro
@hanif
“kumerentas” paragraf tiga bahasa mana tuh? wkk bercanda… he he
puitis banget tulisannye…
tak bales pake puisi nich:
Jiwa Yang Gersang
jiwa yang gersang
bukan terbakar matahari
atau api yang menjalar
dalam urat-urat tubuhku
ia terlampau dekat dengan kita
namun semakin menjauh dari jiwa
aku hendak meraihnya
dan semakin lama teak terkejar
betapa waktu
yang ditandai oleh putar jarum
serta hari bergulir pada almanak
telah terpaku pada dinding
jiwaku yang kering ini
ia yang telah mengenal kering
sangat dahaga
berjalan sendirian sepi
seperti dipadang sahara
kehausan
oleh untanya yang lari
serta oase
tempat perempuan-perempuan bercadar
tak tertatap
fatamorgana seluruhnya saja
maka di sudut bumi
aku mengiris awan
dipuncak gunung
biar menjadi hujan
untuk membasahi tndus keringku
dan Tuhan
semoga berkenan
menurunkan hujan yang sama
pada mataku
di pertigaan malam terakhir
untuk membasuh
jiwaku yang mulai membongkah kering
oleh riuhnya dunia
yang fana
Oemar Timbul
hanif : Lagi-lagi dibilang puitis…hufh…tapi semoga mudah dipahami.
Puisi yang bagus, terima kasih sudah berkunjung.
Ya mas, kudoakan. Bisa karena biasa kok.
hanif : Makasih.
speecless…
*tulisannya bener ga tuh?*
hanif : Bener. Ada yang salah y?
gersang
merindu hujan
gersang
merindu hidayah
Kunjungi:
http://miejanda.com
hanif : Alhamdulillah sudah kudapatkan Mas, Allah masih menyayangiku…
sptnya memang harus slalu disirami dgn air keimanan
hanif : Iya..sedang berusaha nih.
semalam main. gak ada orang di rumah. ninggal koment. baca sedikit. thanks… kapan-kapan main ke rumah saya mas…
hanif : Iya..nanti siapin teh tubruknya ya sama rengginangnya jangan lupa
Masuklah dalam ketenangan Jiwa dalam penyerahan diri total kepadaNYA.. subhanallaaaah membuat hidup tambah hidup dan semakin hiduuup
Salam Sayang
hanif : Yup terus berusaha, makasih kang!
saya sangat terkesan dengan petikan kalimat tersebut. biarlah saya ambil waktu untuk memantapkannya dalam hati. butuh keikhlasan yang besar untuk bisa menerima segala ketentuan Allah sebagai rahmat. terimakasih, mas hanif.
hanif : Weks…syukurlah kalau ada manfaatnya bu dokter.
Mari kita sirami tanah yang gersang itu…
Air meresaap…
dan tumbuh subur tanaman di atasnya…
^_^
mari berjuangg!!
hanif : Fight…fight…fight