Rasa itu sebisa mungkin harus ia tunda. Seperti tokoh Sir Fatah dalam novel Birunya Langit Cinta*1. Ia masih harus mencari definisi yang pasti agar ia tak tersesat dalam labirin yang seringkali muncul dari rasa itu tanpa ia sadari. Butuh kesabaran yang membuatnya harus terus bertahan dalam gempuran dan kejelian yang mungkin melelahkan. Namun, itu harga yang cukup pantas menurutnya karena jika rasa itu dibiarkan bebas, maka rasa itu akan menyiksa nantinya. Dengan membuatnya bingung pada awalnya, adakah rasa itu tarikan fitrah manusianya yang suci atau hanya lambaian nafsu yang akhirnya melucuti?
Ia mencoba menerjemahkan perkataan Imam Ibnu Al-Jauziy*2,” Tak ada kebeningan hati dan jiwa jika kita bergaul dengan manusia tanpa moral etika”. Itu juga yang coba diaplikasikannya dengan makhluk yang bernama wanita. Makhluk yang paling rumit untuk dipahami sehingga mengharuskannya belajar tentang adab dan batas toleransi. Pelan dan hati-hati agar nanti tak ada hati yang tersakiti ketika berinteraksi.
Hanya saja sepi seringkali menjebak. Seperti manusia pada umumnya. Ada penatnya yang kadang ingin dibagi. Ada lelahnya yang kadang ingin dimengerti. Andai raganya tak kasat mata mungkin akan juga ada sesuatu yang ingin disentuhnya. Namun, halal dan haram telah diketahuinya sehingga pembebanan (taklif) itu akan memiliki konsekuensi akhir dari apa yang dipilihnya. Apakah ia akan memilih kebahagiaan awal tapi semu atau kebahagiaan akhir yang menentramkan? Itu semua tergantung dari pilihannya tentang halal haramnya sebuah hubungan.
Ia memang tak sebijaksana Abu Bakar, juga tak seadil dan setegar Umar. Tidak juga setampan Ustman atau seromantis Ali bin Abi Thalib. Namun, Ia terus belajar dan terus belajar mengenal dan mentauladani sifat Rosululloh saw., karena dalam diri beliaulah semua sifat itu terangkumkan. Ia akan segera mencari jawaban ketika ragu atau merasa di daerah abu-abu. Tak mau juga terburu-buru menguapkan rasa itu menjadi sebuah kata yang menurut kita sederhana, tapi sulit mengatakannya. Ya tak lain karena rasa itu menyimpan energi teramat besar. Energi untuk menumbuhkan, energi untuk memberi perhatian,dan energi untuk berkorban. Juga untuk peduli dan dan empati terhadap semua impian serta energi untuk selalu bangkit dari pahitnya kekalahan.
Pada akhirnya ia memberitahuku definisi tentang rasa itu. Ia mendefinisikannya sebagai “memberi tanpa pamrih”. Definisi untuk rasa yang sering kali kita sebut dengan kata “CINTA”. Dan sepertinya definisimu tentang rasa itu sedikit berbeda dengan definisinya. Tentang proses pencariannya, tentang arti sampai tentang tataran aplikasi. Benar tidak ? Atau ada yang sama dengan definisinya? Hanya kalian masing-masing yang tahu jawabannya. Adakah yang mau memberitahuku bagaimana definisimu tentang rasa itu?
*1 : Novel “Birunya Langit Cinta” karya Azzura Dayana
*2 : Buku “Shaidul Khatir” karya Imam Ibnu Al-Jauziy




ah… susah diungkapkan dg kata2 ttg semua rasa itu…
kunjungan dinas rutin dari – sakainget
hanif : Yang benar Mas?
definisiku tak mudah diungkapkan dengan tulisan..
hanya perasaan dan raut wajah yang membuktikan
hanif : Juga sikap dan keseharian Mas Anno kalau bisa.
Assalaamu’alaikum…
Manusia dicipta, dilahir dalam bentuk berbeza. Tidak sama walau dia serupa atau kembar kelahirannya. Begitu juga dalam usaha mempamirkan sesuatu luahan pemikiran atau idea terhadap sesuatu yang dilihat, didengar, dirasa, disentuh dan dialami sendiri. Semuanya tidak sama walau dalam ruang yang serupa.
Untuk mendefinisikan sesuatu perkara mengikut pandangan seseorang individu akan menjelmakan satu bentuk pemikiran yang unik dan hebat. Tentu tidak akan lahir kata yang serupa walau perkataan yang diungkap adalah sama. Rasa dan Cinta begitu mengkagumkan ketika ia hadir dan menzahirkan suatu rona indah, halus, berseni dan mempesona jika ia disertai dengan cinta yang hakiki kepada Allah swt.
hanif : Wa’alaikumsalam.
Ia ingin mencintai sesuatu karena Allah, itu katanya.
untuk BISA MERASA adalah hal yang tak mudah, benar yang ditulis, butuh BENING HATI untuk BISA MERASA karna bisa jadi saat HATI itu tak lagi BENING maka yang terjadi adalah MERASA BISA
semoga kita senantiasa menggosok bersih hati kita agar senantiasa nampak BENING
hanif : Ada penekanan di kata BENING, ada sesuatu yang sepertinya ingin kau sampaikan tapi kau sembunyikan ya Can? Hm…jadi penasaran..
Mendefinisikan rasa adalh perbuatan yang (bagi saya) sangat sulit. ngga tau juga kenapa.
Rasa itu sering berubah. dari manis menjadi asin begitu pula sebalik nya… Rasa yang tak pernah berubah adalah Rasa Hakiki di dalam hati *bukan berbequ
hanif : Hm…begitu ya?
disembunyikan di balik kata BENING? tidak ada yang tersembunyi kok.
hanif : Ooo…kukira, soalnya kata BENING itu mengingatkanku akan….ah sudahlah…
kata Kerispatih:
“Rasa ini Rasamu…” So, ya seperti itu lah…. he he he .
hanif : Weks..Kerispatih? Mendingan PADI akh…”Menanti Sebuah Jawaban” he he he.
Mendefinisikan cinta bagi banyak orang mungkin adalah memberi dengan harapan balasan. Untuk apa memberikan cinta dan kasih sayang tapi tak bersambut dan bukankah sebuah kebutuhan untuk mencintai dan juga sekaligus dapat dicintai.
Namun ada sebagian kecil orang yang menempatkan definisi cinta seperti halnya sebuah keikhlasan dalam beribadah. Dirinya mencintai, menyayangi dan memberikan cinta dan kasih sayang tanpa mengharapkan balasan atau pamrih. Dirinya selalu mencurahkan cinta dan kasih sayang kepada orang yang ia cintai tanpa peduli apakah orang yang ia cintai menghiraukannya atau tidak.
Dan mungkin orang seperti itulah yang sudah langka di zaman sekarang ini.
hanif : Mas Jafar benar-benar memahami tulisanku ya, itu pesan yang ingin kusampaikan…(he he he soalnya kemarin ada sahabatku yang tak paham akan maksud tulisan ini).
ah..benar kiranya..cinta…
beginilah cinta deritanya tiada akhir….( arti cinta@ CutPATkay)
ingat Novel Birunya Langit Cinta karya Azzura Dayana…
jadi ingat bahwa kau belum mengembalikan novel itu kembali padaku….sekiranya taulah kau balas budi…hehehe…
hanif : He he he iya mau kukembalikan lupa Jul, tapi kau baru pinjam majalah “tarbawi”-ku yang terbaru kan? 2 sekaligus lagi…
Bud, aku minta ijin mengutip beberapa kata dlm tulisanmu yang ini, untuk tak masukin di blog-ku ya…. harus boleh !… he he he… jzkh.
hanif : Ngutip??? Jangan-jangan lagi jatuh cinta nih…cieee suiitt suitt
waduh mas, sampeyan ini nulis apa tho? saya baca bolak balik, naik turun ndak ngerti-ngerti. maap, saya ini memang gagap sastra dalam tahap kronis
hanif : Mas harus perlahan-lahan membacanya. Pesanku sederhana kok. Aku juga bukan dari jurusan bahasa dan sasta…dari manajemen keuangan…he he he…tapi sepertinya aku masih harus banyak belajar lagi nih.
fufufu…
cinta ya…
cinta seharusnya membawa terang yang membantu kita melihat dunia lebih jelas. Kalo cinta bisa bikin segalanya terlihat begitu indah, ia justru punya mata yang baik untuk melihat keindahan-keindahan dunia yang tadinya tersembunyi oleh lapisan suram pesimistis manusia. Ketika jatuh cinta, orang buta sekalipun bisa melihat jelas keindahan-keindahan dunia.
Ketika jatuh cinta, manusia yang cenderung melihat perbedaan dan mengorek borok orang lain malah melihat banyak kemungkinan baik dan kesamaan-kesamaan dari obyek cinta kasihnya (dan lingkungan sekitarnya). Dalam bahasa Kompas, Cinta yang mendalam menebarkan energi positif yang tidak hanya mengubah hidup seseorang, tetapi juga menerangi kehidupan orang banyak.
nah, itu saya kopi-paste mentah-mentah dari postingan saya yang ini: http://perjalanankata.wordpress.com/2009/03/10/cinta-itu-buta/
hanif : Wah definisi yang bagus…
Saya malah sedang belajar mendefinisikan dan mengamalkannya sahabat
hanif : Sama Mas, dan definisi itu juga akan selalu berproses…tak berhenti.
ada di buku ibnu qayyim al jauziyah..di buku rodhoutul muhibbin dan ad dawa’ ad da’wa…
SELAMAT mambaca…..
iklan masyarakat ini disampaikan oleh
shofiyah ^_^V
hanif : Wah belum baca aku…
ingat kata 2 di film laskar pelangi..
memberilah sebanyak-banyaknya bukan menerima sebanyak-banyaknya..
nyambung nggak yah??!!
hanif : mungkin.
eh salah, harusnya gini :
hanif : itu sepertinya juga cocok untuk dirimu sendiri Pin.
aslmkm….lagi males baca postinganya ;:D,lain kali ya komentnya..
agh…kenapa orang2 yg ada disini serasa begutu dekat..mb ican, ais,mb wen2, mas ipin, edi gunt komentator di blog p hafidz, suliwe jg sepertinya tahu…dll
hem..tapi sy belum tahu sapa yg punya weblog ni, mas hanif sp? aplgi uny?mipa lg…ad hbgnya am jrmn he..
dl jundullah comunity jg ya…
hanif : Pak hafidz? siapa beliau?Ane dari FISE bukan dari MIPA..JRMN tahu sedikit….kok bisa tahu…he he he itu amniah hallah
haha! agaknya ada yang sedang takut jatuh cinta nih.
takut kebablasan dalam merasakannya, ya?
don’t worry be happy, mas hanif.
semua rasa adalah rezeki, nikmati dengan penuh tanggung jawab.
terima kasih atas kujungannya ke blog saya, ya?
hanif :
Cinta itu berjuta rasa, karena berjuta rasa itu maka banyak sekali definisinya
hanif : Sepertinya sudah pernah jatuh cinta ya?
asw..
cinta mmg fitrah tp kadang memusingkan,ruwet, kadang menakutkan. tapi jika cinta itu muncul karena ikhlas dan ridho dari Allah, laen.
gt ya??? hehehe sok tau ya ^_^
wass..
hanif : Wassalamu’alaikum
Ya seperti itulah.
… wanita. Makhluq yang paling rumit….
Semua jika berurusan dengan asmara semua jadi rumit Bud.. Laki-laki juga. Karena semua berurusan dengan peraasaan yang tidak akan bisa dimengerti bila hati tlah tertutup egoisme diri…
hanif : Kata-kata mba bijak juga…sudah banyak makan asam garam kehidupan daripada aku.
Gambar bunganya bagus… >_<
*aslinyabingungmaukomenapaya*
hanif : Kamu merasakan seperti dia juga ya..hufh???mungkin karena tulisanku tak kutulis dengan hati kali.