Lorong rumah sakit itu masih tetap sama. Masih membingungkan. Masih pula menawarkan ratusan tatapan mata yang mulai usang. Banyak wajah yang lebih menampakkan keletihan. Mungkin karena berhari-hari menunggu opname sanak keluarga yang tak kunjung menampakkan kesembuhan. Atau letih karena harus menampakkan wajah bias ketegaran disertai senyuman di depan orang yang dicintainya, yang sedang terbaring sakit, [...]
Arsip untuk Mei, 2009
IBSN : Agar Semuanya Menjadi Berarti
Diposkan dalam kata hati pada Mei 25, 2009 | 32 Komentar »
Dialog Jiwa
Diposkan dalam kata hati pada Mei 20, 2009 | 18 Komentar »
Kegelisahan itu datang tanpa terencana. Ia menemukan jalannya lewat penyendirian yang juga tanpa terencana. Memunculkan tanya jawab tanpa diminta. Tentang apa yang sedang dirasakan oleh hati atau tentang apa yang sedang terlintas dalam pikiran. Lalu dengan gumaman merangkainya menjadi angan yang seringkali hanya disandarkan. Melewati batas cakrawala wacana yang wajarnya terjadi. Dan membutuhkan waktu lama [...]
IBSN : Pertanyaan yang Tak Terjawab
Diposkan dalam kata hati pada Mei 15, 2009 | 20 Komentar »
Aku masih bertahan disini. Masih dalam pertarungan demi pertarungan menentukan hitam putihnya hari. Kadang hampa datang menyiksa. Kadang bahagia kemudian bertaut mesra menyapa. Kadang ada getaran hangat kurasa, kadang pula tanda tanya besar muncul di kepala. Terkadang bahkan akal sampai kehilangan toleransi untuk melogika semua peristiwa.
IBSN : Saatnya Membuka Peti Emas
Diposkan dalam capung pada Mei 10, 2009 | 26 Komentar »
Ketika pena telah diangkat dan lembaran telah mengering, seharusnya aku lebih sabar untuk mengeja setiap huruf yang tertera di dalamnya. Harusnya aku tak tergesa-gesa agar rangkaian kata-kata yang terbaca benar-benar bisa membekas dalam jiwa. Namun, seringkali arogansi mendahului. Arogansi yang muncul dari otoritas diri. Baik otoritas yang melekat sebagai sebuah kapasitas seperti ilmu dan keahlian [...]
Chaos
Diposkan dalam kata hati pada Mei 5, 2009 | 16 Komentar »
Lagi-lagi romantisme itu berbicara dengan bahasanya yang sederhana. Menelisik kosongnya ruang jiwa, menimbulkan tanda tanya. Ujungnya menggelisahkan karena seringkali aku salah menerjemahkannnya lewat rasa apalagi kata. Mungkin karena hati ini tak bening saat membacanya. Ah…Pantas saja… air wudhu itu seakan tak mampu membunuh sikap riya dalam dada, sujud-sujud itu tak jua membuat wajahku kian bercahaya. [...]



