
Rumput hijau di tegalan sudah menanti kedatangannya. Matanya kembali nanar menatap hamparan persawahan di dekat rumahnya sore itu. Angin sore yang menemani dan langit yang sering menampakkan mendung hitam tak menghalangi keasyikannya. Ada sesuatu yang sedang dicarinya. Inspirasi untuk sebuah rencana besar. Namun, ia lebih suka mengatakannya kepadaku “Aku hanya sedang berusaha bersahabat dengan alam, Bud”. Hm….
Setelah kelulusannya dari bangku kuliahnya di sebuah kampus ternama di Bogor, hatinya tergerak untuk mengaplikasikan ilmu yang didapatkannya apalagi ketika hamparan sawah itu tak lagi menghijau karena sebagian besar baru saja di panen. Sebagian besar sudah berwarna coklat dengan hiasan tumpukan jerami disana-sini. Ada pertanyaan yang terus menyerang hati kecilnya “Kenapa sawah seluas dan sesubur ini tak bisa menjadikan penduduk di desaku hidup berkecukupan ya? Aneh? Ah mungkin ini juga yang membuat para pemuda di desaku lebih memilih merantau ke Jakarta atau kota besar lainya daripada bertahan di sini dengan menggarap sawah”
Akhir pencariannya sore itu dibuyarkan oleh seruan ibunya yang menyuruhnya pulang karena langit akan hujan. Iapun kembali menapaki jalan setapak rmeninggalkan persawahan menuju rumahnya. Tak lupa ia tersenyum menyapa jika berpapasan dengan para petani yang tak lain adalah tetangganya, mungkin sambil berkata dalam hati “Bersabarlah Bu tani, Pak tani…pasti ada jalan untuk bisa membuat sawah ini memberi penghidupan yang cukup buat kita semua, aku dan bapak-bapak dari PPNSI (Persatuan Petani Nasional Seluruh Indonesia) sedang membuatnya dan kalianlah kunci kesuksesannya”.
Setiap pilihan itu ada konsekuensi yang mengikutinya dan penggalan cerita di atas hanyalah satu diantara banyak orang yang memilih tetap tinggal di daerah sendiri untuk membangun meski di luar daerahnya banyak peluang untuk hidup enak dan berkecukupan dengan gaji yang besar dan fasilitas yang lengkap dari perusahaan. Itu juga realita yang terjadi di kota kami tercinta, kota sarang burung lawet, kota Kebumen. “Sebuah kota kecil dengan banyak tempat wisata” kata Reni mengingatkanku. Banyak pemuda di kota ini yang memilih terbang ke kota lain untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak karena merasa kotanya tak mampu memberinya.
Realita yang mengiris yang banyak terjadi di kota kecil lainnya. Aku juga tak tahu mengapa. Mungkin karena sampai sekarang penghargaan terhadap pemuda dengan pendidikan yang cukup tinggi di negeri ini masih sangat kurang. Di semua sektor kehidupan masih sedikit pemuda yang berperan. Pemuda belum banyak dipercaya. Kebanyakan sektor-sektor kehidupan didominasi oleh orang-orang tua dengan gaya lama padahal dunia sedang berlari menuju globalisasi di segala bidang sehingga regenerasi dan perubahan yang cepat itu mau tak mau harus dipenuhi. Kota Kebumenpun setelah 5 tahun kutinggalkan tak banyak yang berubah. Tak banyak pembangunan fisik yang terlihat signifikan (maaf bahasa-bahasa skripsi kebawa-bawa he he he).
Kota Kebumen yang terkenal dengan sarang burung lawetnya membuatku beranalogi sederhana. Jika burung lawet diumpamakan pemudanya maka sarangnya yang bernilai jutaan rupiah itu adalah karya dan sumbangsihnya terhadap tanah airnya. Ya pemuda memang lebih bebas bergerak (fleksibel). Ia laksana burung lawet yang dengan cepatnya terbang kesana kemari dengan sayap kecilnya. Melakukan manufer-manufer hebat yang mungkin membahayakan tetapi produktivitasnya tetap dapat dipertahankan. Begitulah pemuda yang menjadi idaman zaman.
Kata Pak Chi dalam Laskar Pelangi “Hiduplah untuk lebih banyak memberi daripada meminta”. Jangan tanyakan dulu apa yang kita dapatkan dari negeri kita tetapi apa yang kita berikan untuk negeri ini. Dan aku sendiri… suatu saat ingin kembali ke kota Kebumen tetapi mungkin aku akan terbang memutar. Melewati pegunungan dan lembah yang hijau untuk melegakan hati orang tuaku dahulu (agak lama kayaknya he he he). Doakan semoga kepakan sayap dan naluriku kuat untuk kembali. Kembali untuk membangun negeri khusunya kota kecilku ini. Lalu ijinkan aku bertanya kepadamu “Kemana engkau kan kembangkan kepak kecil sayapmu yang hitam itu? Adakah engkau akan kembali ?” Kuharap jawabanmu melegakan hati kami nanti agar kami tak sendiri membangun negeri ini.
Tulisan ini kudedikasikan untuk sahabat-sahabatku yang telah berusaha membangun kota Kebumen : Seto, Lulus, Wen2, Tulus, Putut dan semua sahabat-sahabat EXOCET angkatan 2004 SMANSA Kebumen. Aku akan ingat terus janji kalian (Robi, Ais, Ican, Vera, Adit) di Temu Kangen Exocet bahwa kalian akan kembali ke Kebumen kan? untuk membangun kota ini tentunya.




1. Iya, bahasa skripsimu kebawa-bawa, soale postingan ini ga terlalu puitis kayak biasanya. Hehehe…
2. Kebumen itu emang banyak tempat wisatanya. Semoga bisa semakin dikembangkan.
3. Aku mungkin susah kembali ke Kebumen, Bud. Maafkan aku…
hanif : Sedang ga ada mud untuk berpuisi. Ga papa Ren, membangun Kebumen tak harus ada di kota ini kan. Jadi orang tua asuh untuk anak2 yang kurang mampu dengan memberikan bea siswa misalnya. yang penting mencoba untuk berkontribusi. OK
Lha ngono… Mbangun desa-ne dhewe ….
hanif : Iyo-iyo, njenengan wis yo..wah kalah start ki
Eh burung lawet sama walet beda ya?
Untuk berbankti pada negeri tidak harus di kota kelahiran kan? Dimanapun sama aja selama masih di Indonesia.
Hehe..
hanif : Kayaknya sama. Iya yang penting kita berusaha berkontribusi untuk negeri ini, tapi akan lebih baik jika kita bisa membangun daerah sendiri.
dunia begitu luas
rejeki terserak dimana-mana
menunggu mereka yang bersedia mencari
mengapa kita sendiri yang membatasi diri ?
hanif : Bukan membatasi diri. Hanya mencoba mendengar hati nurani saat ibu pertiwi seakan menangisi putra-putranya pergi. Lalu mencoba peduli dengan berkontribusi. Hanya itu…
Membangun Kebumen tidak semudah yang dibayangkan Bud.
Pada saat menjadi mahasiswa kita dapat membantu adik2 kelas untuk dapat menembus PTN yang bagus. Disinilah kita bimbing adik2 secara intensif sambil menekankan untuk kembali ke Kebumen jika sudah sukses nanti.
Setelah kita lulus, kita tidak bisa membangun Kebumen seorang diri. Punya kekuatan apa kita lulus dari sebuah kampus? Gelar doank kn? Pengalaman belum punya.
Dengan bekal gelar ini seorang bisa menggunakan dengan bijak untuk membangun Kebumen sesuai dengan keahlian masing2.
Pendidikan –> Kita bangun dengan menjadi guru yang berkualitas.
Ekonomi –> Bud..ini bagianmu. Apa idemu untuk membangun perekonomian di Kebumen???
Pertanian –> Sawah, Ladang, Kebun..semua ada di Kebumen. Luas bgt lagi. Wen…gimana neh untuk meningkatkan produksi dan kualitasnya. Masa impor trus..
Perikanan –> Kebumen punya laut lho… dari Mirit-Ambal-Buluspesantren-Bocor-Petanahan-Karangbolong…
Berapa panjang pantai yang ada di Kebumen???
Politik –> hehe..aku bingung kalo yang ini…susah…
dadi caleg yo… sebenere iki sing penting.. Mau membangun Kebumen harus ada dukungan dari pemerintah daerah…
Pariwisata –> hmm.. banyak seh tempat wisata…tp…
Banyak yang tidak terawat jadinya tidak berpotensi mengundang orang untuk berkunjung.
Keamanan –> hmm… apa ya? tau sendiri ah…
Kesehatan –> Hes..ini bagianmu lagi..hehe.. Masyarakat Kebumen harus sadar gizi untuk hidup sehat.
Apa lagi ya??? mumet ki.. akeh banget jebule..
Setiap orang Kebumen punya jalan dan cara masing2 Bud.
Kamu tunggu aja aksi mereka. Kita bangun Kebumen yukz..
Kebumen Beriman
“Bersih…Indah…Aman…Nyaman”
Benarkah????
hanif : Memang tak mudah Rob…makanya aku juga sedang mengumpulkan orang-orang nih, Mm…aku juga cari orang luar yang mungkin nanti bisa menetap di Kebumen biar Kebumen menjadi Bersih Indah dan Nyaman seperti jargonnya.
Salut
Membangun tanah kelahiran
Itu lebih baik
Dasyat
hanif : Doakan kami bisa Mas Achoy.
Mudah-mudahan para putra-putra daerah yang telah mendapatkan bekal ilmu dapat membangun daerahnya masing-masing, karena cukup ironis juga mereka yang berasal daerah dengan ilmu yang cukup tapi lebih memilih untuk mencoba peruntungan nasib di kota sedangkan daerah asal mereka sendiri diisi oleh mereka-mereka yang sudah sepuh.
Mudah-mudahan kamu Bud, dan teman-teman yang satu pikiran dapat mewujudkan cita-cita mulia membangun kampung halaman menjadi kabupaten yang lebih maju lagi ya
hanif : Amiiin. semoga kami bisa kembali dan membangun kota kami Mas.
aku anggota exocet kok ora disebut?
gimana kalo kita bangun kebumen sebagai kota dengan kemampuan menghasilkan sumber daya manusia yang baik sebagai sumber kekuatan pembangunan Indonesia. kayaknya itu lebih realistis dibandingkan membanguan banyak pusat industri di Kebumen.
kebumen punya sma-sma yang memiliki kualitas yang bagus, bahkan sebagian ngeklaim sudah berbasis internasional. sarana yang bagus buat pencetak bibit unggul daerah. ya nggak?
itu hanya pendapatku.
boleh sepakat untuk tidak sepakat!
btw, nama exocet kayaknya sekarang diganti bud, jadi wayang kulit. aneh yaks…….
hanif : Mm…soale pas temu kangen kamu g datang, saat itu kan kita tanya di masa depan masing2 orang cita-citanya apa? Mereka yang kusebut yang kuingat akan kembali ke Kebumen untuk membangun Pik.
Nama Exocet diganti??? Ga papalah…yang penting bagi kita Exocet adalah kenangan indah yang tak pernah kita lupakan kan?
tapi kan temanmu yang baru lulus dari Bogor itu berencana melanjutkan studi ke Jogja Bud…
bagaimana nantinya kalau kalian bertemu?
ayo bud, selesaikan skripsimu…
hanif : Kata kamu g jadi? Nunggu biaya dulu…kalau ketemu ya ucapkan salam, lalu ngobrol seperlunya..mudah kan?
Aku pasti menyelesaikan skripsiku Pin…
teruntuk mahasiswa seperti kita, terbiasa dengan situasi kondusif ala kampus memang akan berpengaruh.
bagaimanapun juga, dunia realitas berbeda dengan dunia akademisi.
idealisme mau tak mau harus menghadapi tantangan pragmatisme.
Rasulullah pergi (ke Madinah) untuk pulang kembali (ke Mekah).
Aku cinta Purbalingga..! Hiks..!
hanif : Wah komunitas ngapak juga dong? he he he. Keren juga analoginya “Rasulullah pergi (ke Madinah) untuk pulang kembali (ke Mekah)”.
mas Hanif, saya suka tulisannya…dan saya suka pesan semangatnya..
saya juga mau ikutan menjadi pembesar negri ini sebagai putra (anak) bangsa. Membangun bangsa yang besar memang bisa dimulai dari lingkungan yang kecil…seperti yang mas Hanif lakukan…
wah ladang sawahnya ok tuh…kapan2 boleh ya ajak saya kesana..
hanif : Wah syukurlah. Mas Harsa juga mau membangun negeri juga, jadi bertambah nih orang-orang yang peduli dengan negeri ini.
Rumahku dengan sawah cuma berjarak 20 m, nanti Mas kapan-kapan kuajak kesini deh.
Tapi Bud kadang memang buanyak pertimbangan kenapa seseorang tidak Balik kekota masing, berkaitan masalah “kesempatan” dan rancangan Hidup.
So tak tunggu Kbrmu ketika kau lulus kelak, akankah tetep diKebumen atau????
hanif : Wah kayaknya kamu ga baca seluruh tulisanku ya Ken? Ketahuan, jawaban untuk pertanyaanmu ada di tulisan itu kok, dibaca lagi ya.
saluut untuk semangatnya berbakti pada tanah kelahiran,,, *aku juga mau berjuan. . !* sepertinya banyak potensi ya di kebumen,,
*maw nanya ke diri sendiri dulu ah.. kalo Nisa dan Malang piye Nis?*
,, damaai banget..
jadi pengen maen ke sawah,, tepat di belakang rumahku ada sawah, tapi gak luas-luas amat,, biasanya q merenung di sawah di dusun tetangga
hanif :Hm… potensi Kebumen memang banyak, cuma agak bingung juga mau mulai dari mana yang prioritas mau digarap. Makanya butuh masukan terus dari berbagai pihak.
Merenung di sawah? Ati-ati kesurupan lho…he he he
setuju deh ma ipin, apalagi poin terakhir itu…….semangat ya kelarin skripsi, biar bisa kepakan sayap jelajahi dunia luar cari bekal tuk bangun daerah……maju teruuuusss ya:)
hanif : OK, aku akan kelarin skripsinya dan semoga bisa kembali ke daerah untuk membangun bersama mereka.
hehehe..
aku kemaren ndak janji balik k bumen yah?
ya..begitulah..
but,pembangunan di indonesia memang harus terus diupayakan..
dan..
di wilayah lain pun bukan berarti enak2an..
bisa jadi,melakukan hal yang sama..
cuma karena satu dan lain hal..
emang..berhalangan untuk segera pulang..
piss ah.. ^__^
hanif : Pas reuni Temu Kangen Exocet 04 (Teko ‘04) di rumah Ican kamu datang ga Sav? maaf kayaknya aku lupa
he he he. Kalau kamu ga bisa ke tujuan akhir kita dengan jalan utama, ada jalan memutar kan? Kami tunggu disana ya..
Lulus dulu, itu prioritas.
Setelah itu buka mata lebar2 karena ada banyak sudut pandang dan pendekatan yang bisa diambil.
Ini hanya sekedar ilustrasi. Kira2 lebih baik mana efeknya kita kerja di Perusahaan Pesawat Boeing di Seatle (USA), mendapat pengalaman yang cukup padat, lalu pulang membangun IPTN saat baru lulus? Atau kita kerja di Toyota Jepang, mengetahui sebanyak mungkin seluk beluk industri ini, lalu pulang membangun Pabrik Mobil nasional?
Intinya, untuk bisa mencapai tujuan yang sama, banyak cara bisa dilakukan. Ada cara yang lebih cepat (misalnya belajar dari orang atau tempat2 yang sudah lebih dahulu maju), atau belajar sendiri pelan2 sampai menemukan cara2 yang paling tepat baru bergerak full speed. Itu semua pilihan.
Tinggal sekarang yang penting mesti punya modal dulu yaitu lulus sekolahnya. Hehehe…
hanif : Iya..lulus dulu he he he. Ya benar Mas Nug, aku kayaknya terbang memutar untuk sampai ke tujuan akhir (menambah wawasan dan mengumpulkan modal dulu) dan semoga tak keenakan nanti sehingga lupa untuk kembali.
“Pergi untuk kembali..”
kemanapun pergi , kita pasti akan kembali.
huff,,Kebumen memang unik.
Aku tak tega kalau harus pergi meninggalkan Kebumen
Tapi,,,
Yah, memang benar, manusia hanya berencana
Allah lah yang menentukan.
“Ketika kehendakmu tak sejalan dengan dengan KehendakNya, Birkan kehendakNya yang sejalan atas hidupmu”
Buat putra Kebumen yang akan kembali ke Kebumen,
Cari bekal dan modal yang banyak yah..
Biar lebih mulus jalannya
Hesti yakin kalian punya cita2 mulia
Walapun raga tak nyata di daerah tercinta..
Setelah mencoba mengenali Kebumen lebih dekat,,
Ternyata banyak PR yang aku belum tahu jawaban dan solusinya
Jadi,,,
Nyari jawaban dulu ah.
Yiha,,,berpetualang lagi. (kemana yaH???)
Merantau
Pergi untuk kembali..
hanif : Aku merantau untuk melegakan hati orang tua dulu. Soalnya pikiran sederhana mereka mengatakan “buat apa sekolah sampai perguruan tinggi kalo cuma balik kesini?”. Sedikit klise memang tapi membuatku bingung mengambil keputusan. Ah…lihat saja nanti..yang jelas aku dan teman-teman ingin kembali untuk memenuhi janji. Doakan semoga bisa ya.
Berpetualang? Kemarin habis nyari sapi ya? Kayaknya sudah banyak kemajuan pelaksanaan rencanamu. Syukurlah…
gaya penceritaan yang cukup menarik. dan pasti keinginan itu memajukan diri untuk menjadi lebih berjaya dan menunaikan keinginan bagi melihat sesuatu yang belum ada untuk diadakan. Biasalah….kota selalu menjadi daya tarik buat anak muda mencari kedamaian dan ketenangan yang bagi mereka tidak dipunyai di desa dan kampung halaman.
hanif: waduh disanjung lagi…..aku masih harus banyak belajar lagi.
Haha, bingung mau menulis apa. Pendapat-pendapat yang menarik. Nggak ada tanggapan bodoh, atau ide yang tidak berkualitas. Semua baik. Semua memiliki perspektif masing-masing. Ada yang idealis membangun kembali daerahnya, ada yang realisstis untuk mencari kesempatan terbaik bagi dirinya.
Apapun itu, aku rasa ide tidak hanya cukup ditulis di blog, atau dibincangkan. Aku suka berfikir dan bertindak dalam jarak waktu yang tidak terlalu lama. Karakter lulusan sarjana adalah pemikir dan penggagas, itu ilmu yang didapat di bangku kuliah. Masih belum cukup, ada ilmu di luar kuliah yang namanya managerial skill and communication skill. Kalau Anda yang pernah KKN atau aktif dalam kegiatan kemahasiswaan, sedikit banyak skill itu ada dalam diri kalian. Satu lagi nih yang harus dimiliki sekarang, technological skill. It is a must!!! Setelah kamu merasa memiliki itu semua, hal selanjutnya adalah mengetahui apa masalah yang ada di Kebumen (in case you are willing to improve Kebumen regency economic perfomance). Setelah tahu masalahnya, kamu list, kira-kira masalah itu bisa diselesaikan oleh skill apa saja, terus cari deh orang2 yang punya skill itu (ini dia fungsi koordinasi). Why, karena kamu bukan dewa yang punya semua skill.
Diskusikan, idenya. Ingat, selalu ada batasan2 dalam realisasi ide. So, libatkan sebanyak2nya unsur masyarakat (ingat ya, unsur, bukan orangnya !!!). Sedikit orang tapi kompeten di bidang masing2 itu lebih bagus daripada banyak tapi cuman ngomong!!! Dari sinilah muncul brainstorming. Aku juga mengingatkan untuk tidak terlalu idealis dalam memilih scope of action. Maksudku jangan langsung level kabupaten lah, mulai dulu dari RT, RW, Desa/Kelurahan. Libatkan sebanyak2nya kaum muda yang punya NIAT, masalah “utek” nomer dua kalau mau membangun desa, yang penting niat. Ini penting untuk menjamin sustainability dari sebuah kebijakan. Percuma banyak orang pinter terlibat tapi nggak niat. Minta masukan dari orang tua, mereka punya pengalaman yang dapat membantu kita. Terus, pemerintah saya kira jg punya banyak program pro rakyat, seperti PNPM dan KUR. Tanya prosedurnya, kalau dipersulit jangan berhenti, tanya kalau perlu tuntut untuk memberikan penjelasan. Ini dia satu lagi skill komunikasi yang jarang dimiliki orang muda: BERANI (tapi jangan sembrono, berani yang berdasar dan berotak). Manfaatkan peluang yang ada.
Setelah proses di atas berhasil, kembangkan ide, undang rekan-rekan lain yang kebetulan berkarir di luar daerah untuk ikut berkontribusi, kalau perlu undang LPPM UGM dengan KKN-nya yang mendunia itu untuk turut berpartisipasi.
Mungkin itu dulu ideku Bud. Perlu pioneer untuk mbangun deso. Prinsipnya, mulai dari yang kecil tapi berkualitas. Semoga berhasil. Semoga aku bisa turut berpartisipasi suatu saat nanti.
hanif : Mantap. Terimakasih atas masukannya.
mantuaabb anak kita yg berbakti…
hanif : Kalau kamu sendiri gimana?
Assalaamu’alaikum
KEPADA SAHABAT YANG BAIK… SAMBUTLAH UCAPAN DARI SAYA. SERANGKAI KATA PENGGANTI DIRI. UNTUK MENYAMBUT HARI BAHAGIA. JARI SEPULUH DI SUSUN JUGA. AGAR KESALAHAN DIAMPUN SEMUA. TANDA IKHLAS PERSAUDARAAN INI. SELAMAT HARI RAYA AIDIL FITRI 1 SYAWAL 1430 H. MOHON MAAF ZAHIR DAN BATIN. SALAM KEMESRAAN DARI SARIKEI, SARAWAK.
#Ke mana kau selama ini Budi… maaf kerana lama sudah tidak berkunjung. Bulan baik ini di harap mendapat keberkatan untuk hari kemenangan yang bakal tiba.
hanif : Wa’alaikumsalam
Selamat hari raya idul fitri juga
Sedang sibuk ngurus sidang skripsi mba.
dunia ini selebar bentangan sayap burung dan seluas mata carawala memandang antara lagit dan burung
hanif : Kok ga nyambung…..????