Secangkir “Good Day Moccacino” menghangatkan tubuhku pagi ini. Sejak tadi malam kubaca beberapa literatur luar negeri yang berkaitan dengan skripsiku. Memahami jurnal-jurnal berbahasa inggris itu membuatku tidur jam tiga dini hari. Subuh bangun. Lalu search ke internet. Ini kulakukan karena ini amanahku yang terakhir di kampus dan “Ipin”, sahabatku juga terus mengingatkanku akan skripsiku yang memang terbengkalai-akhir ini (selamat !!! kamu berhasil Pin…kutunggu syukuran dan makan-makannya ya…lho kok?). Namun, masih nihil. Aku belum juga mendapat titik cerah untuk satu variabel yang bermasalah. Email yang kukirim ke salah satu narasumber yang tertera di literature yang kupakai pun belum juga dibalas. Padahal aku sangat berharap dia bisa membuatku benar-benar mengerti dan paham dengan skripsiku. Begitupun dengan dosen di jurusanku, tapi masih saja tak bisa membantu.

Aku yang notabenenya mengambil jurusan “Manajemen Keuangan” ini belum juga paham secara komperhensif dengan “financial distress” yang menjadi substansi skripsiku. Mungkin memang benar-benar baru dan yang kutemukan memang hanya ada 2 penulis Indonesia yang mengupasnya. Selebihnya orang luar. Ini tidak mengherankan. Di semua bidang ilmu, negara kita memang jauh tertinggal (pada setuju ngga?). Namun, tak mengapa. Semoga dengan itu, kita generasi muda semakin bersemangat untuk mengejar ketertinggalan itu. Menambah kapasitas kelimuan kita. Rasululloh juga selalu mengingatkan bahwa pencarian ilmu adalah kegiatan yang paling mulia yang bisa dilakukan oleh manusia. Beliau selalu meminta supaya para tawanan perang yang bisa mengajari kaum Muslim membaca agar dibebaskan sehingga tak mengherankan jika beliau selalu menyuruh kita untuk mencari ilmu, bahkan kalau perlu sampai ke negeri cina. “Tinta seorang sarjana lebih suci daripada darah syuhada” itulah kata beliau.(dikutip dari buku Imperium III).
Ruh murni itu yang mungkin hilang dari diriku selama ini. Ruh bahwa menyelesaikan skripsi bukanlah semata-mata untuk sekedar meraih gelar sarjana. Sekedar formalitas untuk keluar dari hiruk pikuk kampus. Namun, ruh untuk mencari ilmu. Niatan yang tulus karena Allah. Ya.. karena ayat pertama yang diwahyukan kepada Rasululloh pun titik tekannya pada pencarian ‘ilm, ilmu, Iqro bismirobbika (Bacalah, dengan nama Tuhanmu) –Ah…jadi ingat seseorang, *terbayang mode ON*-. Dimulai dengan kalimat inilah peradaban Islam yang gemilang itu pernah terwujud, yang sekarang ini sering disepelekan. Terpinggirkan, maka tak heran Islam kian terpuruk.
Berbicara skripsi seperti berbicara tentang pertarungan dengan diri sendiri karena memang jika aku tak berusaha mengerjakannya skripsi itu juga tak akan mengalami perubahan. Ada pertarungan melawan kemalasan dan godaan-godaan lainnya. Aku jadi malu ketika tahu bahwa “Shahih Bukhori” yang berisi hadist-hadist shahih Rasululloh dicari dan dikumpulkan oleh Imam Bukhori selama 16 tahun. Ia mengembara ke berbagai negeri dengan berjalan kaki untuk mengumpulkan dan menyeleksinya. Sungguh menguras banyak tenaga, dana dan waktu. Namun, perjuangannya itu tak sia-sia. Allah memuliakannya dengan mengharumkan namanya karena usahanya. Semoga aku bisa juga meniru ikhtiar-ikhtiar yang beliau lakukan. Mohon dukungan dan doanya juga agar aku bisa menyelesaikan skripsiku ya agar ini bukan menjadi sebuah formalitas, agar ini menjadi sebuah pertarungan yang memuaskanku ketika aku memenangkannya. Terima kasih.
spesial tuk Ipin, makasih ya…


kok kamu jadi suka minum good day mocacino bud? itu kan kesukaanku?
heh, jangan berterima kasih dulu! orang belum selesai juga!
ayo cepat selesaikan!! [serius mode ON]
Lho, dulu pas jaman kuliah aku juga suka good day moccacino. Tapi, semenjak bekerja aku jauh-jauhin deh minum kopi. Lebih memperbanyak air putih aja.
Semoga kau bisa cepat menyelesaikan skripsimu.
Lebih utama, selesaikan skripsi … menulis skripsi jadikan ibadah. Jadi, semua jadi mudah. Semoga.
hanif : Terimakasih Mas Ersis sudah mau berkunjung, doakan aku bisa menjadikannya sebagai ibadah
Ane juga pernah mengalami masa-masa sulit–saat mood mengerjakan skripsi tiba-tiba menguap entah kemana. Dan–yang mungkin mengejutkan ente adalah–kita berada di tempat yang sama pada waktu itu. So, ada 2 kemungkinan mengenai hal ini :
1. tempat yang kita tinggali itu banyak setannya, sehingga mereka bisa berfoya-foy menggoda kita.
2. Kurangnya motivasi, sebab kita terlau jauh dari Kampus–tempat dimana teman-teman seperjuangan tiada henti memotivasi.
3. Lingkungannya tidak kondusif; terlalu banyak godaan, seperti musik di kost sebelah yang terlalu keras, suasana yang berisik, atau ada gap dengan teman dekat.
Solusinya…. tanya tuh Ipin, yang udah suksesss meski ‘istiqomah’ berada di situ. Atau kalo pengin saran dari ane : cari tempat atau suasana yang paling menyenangkan untuk mengerjakan Skripsi. terus terang kalo ane–tidak bisa tidak–harus berada di tempat yang sepi, di pagi hari, n tidak ada gangguan, + referensi yang memadai. so, siapkan referensi jauh hari sebelum qta menuju ke t4 yang kita tuju. Yang terakhir… ente harus berani berkata ‘TIDAK’ untuk merubah sesuatu yang sudah terlanjur antum agendakan. OK, Sukses Selalu…
hanif : makasih tipsnya, akan kucoba deh. Doakan ya
Ah, sepertinya dia ga berani bilang TIDAK, mas.
hanif : Mungkin karena aku tidak se-reaktif dan se-spontan sepertimu Pin.