
Jari jemariku kaku sesaat di atas keyboard. Untuk beberapa saat ia tak mau menyatu dengan pikiran bawah sadarku. Untunglah surat ‘Abasa yang sengaja kusetel di winamp untuk menemani pagiku yang dingin ini, bisa membuatnya bersatu hingga kata demi kata mulai terangkai menjadi kalimat membentuk paragraf dan bernada penuh hikmah.
Surat inipun baru terlantunkan dalam sholat subuh tadi. Bersamaan dengan gemericik hujan, lantunan surat ini mengharukan kalbuku karena aku ingat benar apa artinya (sedang dalam proses dihafalkan sih he he he). Surat ini turun karena suatu sebab. Allah swt ingin menegur Rasululloh karena beliau mengabaikan Ibnu Ummi Maktum. Seseorang yang buta matanya, tapi ia bersungguh-sungguh ingin mencari pengetahuan dan petunjuk. Rasululloh lebih mementingkan dakwah kepada pemuka Quraisy padahal mereka sendiri menolak untuk memeluk agama Islam.
Sebuah prinsip penting bagi kehidupan sosial yang Islami telah dipancangkan dalam surat ini. Prinsip penting itu adalah Islam hendak menyamakan setiap manusia. Tidak boleh ada seorangpun yang diistimewakan karena golongan, suku, keturunan, atau kekayaannya. Setiap orang sama, yang membedakannnya dengan manusia yang lain adalah ketakwaannya kepada Allah swt. Mungkin ini yang tidak dipahami Hitler, Musolini dan penganut Darwinisme lainnya yang telah membantai banyak orang yang tak berdosa karena mereka merasa ras mereka lebih unggul di banding yang lainnya. Atau yang pernah dilakukan oleh orang-orang kulit putih di Amerika dan belahan bumi lainnya yang membedakan perlakuan terhadap orang kulit hitam. Dunia menyebutnya “Apharteid”.
Beruntunglah kita karena Islam memiliki prinsip itu. Prinsip bahwa sesama muslim itu sama sehingga dengan mudahnya mereka bisa bersaudara sebagai realisasi persamaan ini. Bersaudara bukan karena warna kulit, suku, rasa yang sama tapi bersaudara karena aqidah yang sama. Seperti warna pelangi yang menjadi satu seperti itulah indahnya bersaudara dalam Islam. Indah bukan ?




Iya setuju, kita semua bersaudara dan saling menyayangi karena Allah
hanif : YUP benar tuh
TUL BETUL . . .
maaf, ada anak tak dikenal ikut nimbrung nih . . . he he he
Bagi siapapun yang sudi silahkan kunjungi rumah sederhana saya di http://bayusmart.wordpress.com
hanif : G papa, tenang aja disini semuanya diterima dengan baik. Gratis lagi..he he he. Terim kasih telah mengunjungi “gubuk saya”. Salam kenal. Semoga bisa saling memberi nasihat dalam kebaikan.
yup, semua masalah akan terasa ringan dan terpecahkan jika ’saudara’ kita sudah turut campur.
tapi masalahnya sekarang adalah : KAPAN SKRIPSIMU SELESAI ?!.
pertanyaan ini hanya kau yg mampu menjawabnya, sahabatku.
hanif : Ikhtiar-ikhtiar itu masih tetap ada Pin. Akupun tak mau berlama-lama di kampus. Aku ingin segera menaiki fase baru dalam hidupku. Jangan pernah jemu tuk mengingatkanku dan menyemangatiku…jujur aku membutuhkan itu untuk saat ini. Thanks
Akh.. Pelangi yang aneka warna itu aja sudah demikian indah..
Islam yang selain menyatukan persaudaran manusia aneka ras juga memberi pencerahan dan jalan yang kadang belum dan tak terjangkau oleh daya pikir semuruh umat manusia.. amat sangat luar biasa super indah yaa..
hanif : Memang benar Mas. Perbedaan itu saling melengkapi yang berpadu indah sempurna karena Islam.
indah,andai hati ini bisa seindah itu?
SETUJU, sangat indah..
hanif : Begitulah…