Feeds:
Tulisan
Komentar

Sang Gadis

sang gadisSiang itu udara terasa menyengat. Global warming menyumbang banyak akan tetes keringatku yang mengalir deras berkendara menyusuri jalanan kota Yogyakarta. Namun, itu tak kami hiraukan karena ada misi yang sedang kami jalankan. Menanti dan mencari sebuah jawaban yang pasti dari isu santer yang terjadi di kampus (kayak judul lagunya Padi?). Isu bahwa sahabat kami akan menikah. Lanjut Baca »

Tumbuhlah dengan Utuh

tumbuhlah dengan utuhJam di HP temanku sudah menunjukkan sekitar pukul 21.30 WIB malam itu. Lampu sudah lebih dahulu berganti merah ketika kami sampai di perempatan lampu merah MM UGM. Lalu tubuh mungil itu segera mendekat bertepuk tangan sambil menyanyi lagu yang tak jelas terdengar. Menampakkan wajah mengharap “Mas sisihkan recehmu untukku”. Dan segera saja temanku merogoh saku celananya mencari uang recehan yang ada. Lanjut Baca »

Memaknai Kerutan Kelelahan

kerutan kelelahan

Aku tak tahu berapa umur mereka secara pasti. Di KTP yang mereka punya, hanya tercantum tahun lahir tanpa tanggal dan bulan. Sedikit aneh. Saat kutanya apa benar mereka lahir di tahun tersebut, mereka cuma menjawab “kayaknya iya, tidak terlalu ingat sih, yang jelas kami masih mengalami masa penjajahan Jepang saat kanak-kanak”. Ya pantas, mereka lahir sekitar tahun 1937. Mereka menikah di usia yang sangat dini dan karena saat itu tidak ada KB maka wajar bila mereka mempunyai 9 anak. Meski 3 diantaranya sudah meninggal sekarang. Dua meninggal saat dewasa dan satunya saat masih dalam kandungan. Lanjut Baca »

Aku Kembali Cemburu

auraDi terik siang hari wajah itu merah merona. Di sekitarnya ada cahaya. Cahaya yang selama ini kucari dan ingin kumiliki. Seakan cahaya matahari diserap dan dipantulkan olehnya. Aku tertegun beberapa saat. Menelan ludah. Hingga pada akhirnya wajah itu mengeluarkan suara memanggil. Namun, bukan diriku yang dipanggil olehnya melainkan temanku yang sedang punya kepentingan dengannya.Aku hanya diam menunggu urusannya selesai dengan temanku. Lanjut Baca »

Jika Jiwamu Berat

tantanganPagi ini aku mengawali hariku dengan lagu “The Best of Me” milik Bryan Adams setelah semalam dan subuh tadi aku disibukkan dengan revisi skripsi. Ada rasa tawar. Semuanya masih belum kembali genap. Padahal baru dua hari yang lalu aku pulang ke rumah. Mencari serpihan yang tertinggal. Saat kembali ke Jogja aku merasa kembali utuh dengan kepingan yang kudapatkan di rumah. Namun, sekarang rasa ganjil itu muncul kembali. Mungkin hanya rasa teduh bernaung sebentar yang kudapatkan di rumah. Rasa teduh yang melepaskan kepenatan dan kebimbanganku akan sesuatu yang masih misteri, yang aku sendiri tidak tahu mengapa aku merasakan keterasingan ini. Dan rasa teduh yang hanya sebentar kemarin bisa kudapatkan dari pandangan teduh dan belaian tulus simbok. Atau celoteh jujur dan bening mata dari keponakan-keponakanku. Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »