Feeds:
Tulisan
Komentar

Begitu Indah

begitu indahKetika dingin pagi Jogja belum sirna. Ketika aku sedang bingung akankah aku menghadiri undangan Rapat Kerja di sebuah lembaga, juga ketika proposal takjilan ramadhan belum juga ku buat, sms itu datang mengejutkanku. “Bro? ente di rumah ga? Hari ini aku lamaran..mohon doanya y..”. Heh??? …Wouw! Dahsyat! Keren!, itu ekspresi keterjutan dan kegembiraanku menyambut kabar gembira dari sahabatku. Kabut tipis itu sepertinya telah terhapus dengan sinar harapan yang muncul perlahan di cakrawala. Usai sudah cerita tentang penantiannya. Usai sudah cerita tentang pencariannya. Takdir telah berpihak kepadanya hingga gelisahnya kini surut. Muncul episode baru yang sepertinya akan lebih menyegarkan hari ditemani sang pujaan hati. Lanjut Baca »

Home

homeRe…*
Hari ini aku pulang dan pagi ini aku berjumpa kembali denganmu. Kulihat, sepertinya matahari seakan terbit dari tenggara lagi ya?:D Seperti dulu. Ia masih juga dengan setianya menyapu bersih dinginnya pagi dengan hangat sinarnya. Hmm…Masih juga ada kicauan burung gereja menyela disetiap pembicaraan kita. Mengalihkan pandangan kita sejenak kepada hijaunya hamparan sawah yang membentang di depan mata. Menyeruakan kembali kenangan. Kenangan sewaktu tubuh-tubuh kecil itu kotor berlumuran lumpur atau gatal karena bermain gubuk jerami. Lucu sekaligus menyenangkan. Lanjut Baca »

When it is Dark Enough….

imperium IIIBab IV dan V skripsiku sudah selesai kubuat dan sekarang berada di meja dosen pembimbing beserta bab I sampai bab III-nya. Butuh satu minggu bagi dosen pembimbingku untuk mengoreksi semua hasil jerih payahku selama satu minggu kemarin. Sampai-sampai dua buku tebal yang kupinjam dari “Bos” tak sempat kubaca. Buku Shaidul Kathir karya Imam Ibnu Al Jauziy baru kubaca setengahnya sedang Imperium III : Zaman Kebangkitan Besar dan 1.000 Tahun Keunggulan Manusia karya Eko Laksono baru kubaca sampai halaman 25. Padahal sudah sebulan lebih aku meminjam salah satu buku itu darinya. Lanjut Baca »

Filosofi Lima Jari

sama-sama berdiriLagi-lagi kamu mengatakan bahwa aku sedang berpuisi, padahal aku sedang menyuarakan isi hati. Tepatnya menulis dengan hati. Tentang berbagai hal sederhana yang kurasa atau tentang masa lalu yang memercik hasrat untuk bernostalgia. Berharap dengan semua itu bisa memberikan makna untuk orang yang membacanya. Maafkan aku….jika rangkaian kalimatku sedikit membingungkanmu karena bahasaku yang tak selugu dahulu. Kamu tahu sendiri kan? lisanku tak pandai berkata-kata sehingga aku harus berbicara lewat goresan pena. Hanya dengan ini aku bisa memahami semua warna gejolak kehidupan yang tercipta. Hanya dengan ini aku bisa sedikit mengacuhkan luka. Meski mungkin bagimu seakan hambar tanpa cita rasa. Tak apalah, aku menghargai dan mencoba tersanjung dengan kujujuranmu. Lanjut Baca »

Gersang

gersang

Malam-malam ini kembali coba kupecah ketika bulan purnama tak lagi bisa mengobati gundah. Roda sepedakupun berputar membelah jalan. Jalan yang setiap hari kulalui, jalan disamping Selokan Mataram yang berhias rumput ilalang. Kucoba kembali mencari bahagia di setiap nafas yang kuhela. Tak mau terus larut dalam rasa kekeringan yang nyata. Namun, melakukan itu semua ternyata tak semudah mengucap kata, rasa kering itu rasanya semakin hebat menggerogoti jiwa. Lanjut Baca »

Tulisan Sebelumnya »