Sambil menikmati angin sore, sore ini sebenarnya aku ingin meniti rel kereta api bersamamu di dekat rumahku. Perlahan dan hati-hati. Agar aku ingat bagaimana menjaga keseimbangan antara tujuan duniaku dan akhiratku. Untuk mengikis kemunafikanku yang mulai menyengat. Juga menguatkan suara hatiku yang semakin melemah. Pasti aku akan sekaligus teringat kerikil kehidupan yang telah menempaku, yang membuatku sampai disini. Terlepas dari beragam kesombongan yang membuatku merasa asing dengan diriku sendiri. Lanjut Baca »
Ditulis dalam kata hati | 13 Komentar »

Sahabatku,…
Jika hujan datang untuk menghapus kebencian diantara kita maka biarkanlah ia juga menghidupkan kembali hati-hati kita yang telah mati karena tak tersisa lagi rasa peduli. Jika mentari menampakkan wajahnya kembali untuk mengawali hari kita maka biarkan ia juga mencairkan kebekuan karena jarak kita yang semakin jauh. Janganlah terlalu tergesa-gesa mengambil keputusan “kau bukan lagi sahabatku” atau “aku tak mempunyai sahabat”. Ambillah jeda. Tariklah nafasmu perlahan dan ingatlah seberapa banyak kita telah menorehkan tinta cerita, seberapa banyak kita saling berbagi, seberapa lama kita bisa tertawa terbahak bersama dan seberapa banyak kemanfaatan diriku bagimu. Aku tak bermaksud mengungkit semua kebaikanku kepadamu. Namun, mungkin dengan mengingat kemanfaatan kita masing-masing, kita akan kembali ke fase dimana kita benar-benar saling membutuhkan. Atau kau sudah tak lagi membutuhkan diriku? Jika ya…aku takkan mengganggumu lagi. Lanjut Baca »
Ditulis dalam kata hati | 24 Komentar »

Ada kegagapan sekaligus keraguan dalam keluargaku saat aku kemarin diwisuda. Kebetulan dari keluargaku, hanya aku yang mengenyam pendidikan sampai perguruan tinggi. Seperti orang desa pada umumnya, pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan begitu polos dan kadang membuatku geli dalam hati. “Tidak apa-apa Bud? Bapak sama Simbok cuma pakai pakaian batik begini?, Kamu tidak malu ketika dilihat teman-temanmu nanti?”, tanya salah satu kakakku. “Malu kenapa? Yang penting kan bersih, rapi dan tidak bau. Tenang saja, lagian kayaknya mereka lebih sibuk dengan penampilan dirinya masing-masing, sampai tidak sempat memperhatikan penampilan orang lain, kataku sedikit menenangkan. Lanjut Baca »
Ditulis dalam kata hati | 22 Komentar »

Kakakku…Baru kudengar kabarnya, kini ia menjalani hari-harinya dengan menahan rasa sakit. Menjalani terapi 2 kali seminggu untuk mengobati sakit yang konon dideritanya karena ada kelainan dari tulang belakangnya sejak lahir. Namun, baru ketahuan dan terasa sakit sekarang. Hanya saja akhir-akhir ini suaminya sedang lumayan sibuk karena pekerjaan menumpuk di kantor sehingga jadwal terapinya jadi sedikit terganggu. Ia memakluminya, mencoba mengerti dan juga mencoba bersabar dengan sakitnya itu. Lanjut Baca »
Ditulis dalam capung | 19 Komentar »
Siang itu udara terasa menyengat. Global warming menyumbang banyak akan tetes keringatku yang mengalir deras berkendara menyusuri jalanan kota Yogyakarta. Namun, itu tak kami hiraukan karena ada misi yang sedang kami jalankan. Menanti dan mencari sebuah jawaban yang pasti dari isu santer yang terjadi di kampus (kayak judul lagunya Padi?). Isu bahwa sahabat kami akan menikah. Lanjut Baca »
Ditulis dalam kata hati | 16 Komentar »



